Pemerintah Paparkan Alur Pengembangan Vaksin Corona hingga Diproduksi Massal

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 17:14 WIB
Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito
Jubir Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito (Satgas Penanganan COVID-19)
Jakarta -

Pemerintah menjelaskan alur pengembangan vaksin virus Corona (COVID-19). Pengembangan vaksin harus melalui serangkaian proses sebelum akhirnya bisa diproduksi secara massal.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, menjelaskan proses awal sebelum pengembangan vaksin dilakukan adalah penelitian dasar, di mana sel-sel terkait virus diperbanyak dan diekstraksi sebagai dasar vaksin. Selanjutnya, proses akan masuk ke tahap uji preklinis.

"Tentunya dalam uji ini untuk mengetahui keamanan bila nantinya diujikan pada manusia. Jadi kembali lagi saya ingatkan bahwa uji preklinis itu untuk memastikan bahwa vaksin ini nanti aman apabila diujikan pada manusia. Sebelum dipakai, diujikan dulu pada hewan," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan kanal YouTube BNPB, Kamis (22/10/2020).

Setelah uji preklinis selesai, vaksin akan memulai uji klinis tahap 1 dengan jumlah sampel minimal 100. Uji klinis tahap pertama ini akan menilai dan memastikan keamanan dosis vaksin bagi manusia.

"Dan ini untuk menilai dan memastikan keamanan pada manusia serta menilai farmakokinetik dan farmakodinamik. Jadi bagaimana proses vaksin tersebut masuk kepada manusia dan melalui proses farmakokinetik dan farmakodinamik. Dan di dalam uji klinis fase 1 ini untuk menentukan rentang dosis aman. Pertama sudah diuji preklinis pada hewan percobaan untuk memastikan bahwa itu aman untuk manusia, berikutnya lagi uji klinis fase 1 untuk memastikan keamanan dosis pada manusia," ujar Wiku.

Selanjutnya, dalam uji klinis fase 2, vaksin akan diuji pada 100-500 sampel. Dalam uji klinis fase ini akan dilihat rentang dosis optimal dan penentuan frekuensi pemberian dosis vaksin yang tepat.

"Kita ingin memastikan dan menilai bahwa keamanan pada manusia itu dapat tercapai dan menilai efektivitasnya, serta kembali lagi menentukan rentang dosis optimalnya, dan menentukan frekuensi dari pemberian dosis yang paling optimal, serta menilai efek samping jangka pendek," jelas Wiku.

Berikutnya, pada uji klinis fase 3, vaksin akan diuji pada sampel minimal 1.000 hingga 5.000 orang. Tujuannya adalah melihat efektivitas vaksin pada populasi yang lebih besar.

"Dan ini tujuannya adalah menilai dan memastikan keamanan, efektivitas, keuntungan yang melebihi risiko penggunaan pada populasi yang lebih besar," tuturnya.