Warga Sulsel Dihukum 5 Bulan Penjara karena Komentar di FB Hina Polisi

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 15:35 WIB
poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Warga Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), bernama Juliardi (28), dihukum 5 bulan penjara. Juliardi dihukum karena komentar di Facebook yang bermuatan hinaan kepada Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Hal itu tertuang dalam putusan PN Makassar yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Kamis (22/10/2020). Kasus bermula saat seorang netizen mengunggah sebuah berita di Grup Facebook 'Info Kejadian Kota Makassar' pada 8 Juni 2020, yaitu berita tentang langkah Polda Sulsel yang akan memproses hukum pengambil paksa di mayat terkait COVID-19.

Yuliardi kemudian memberikan komentar:

Ta*... Terus mana sangsinya membujuk keluarga agar diakui saja corona?

Polisi: periksa orang lihat situasi.

Wajahmu itu mirip corona.

Seorang polisi yang sedang melakukan patroli cyber kemudian memproses Juliardi atas komentar di atas. Juliardi kemudian diadili dan duduk di kursi pesakitan. Majelis menyatakan Juliardi bersalah melanggar Pasal 45 ayat (3) Jo Pasal 27 ayat (3) UU ITE.

"Menyatakan terdakwa Juliardi telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Juliardi oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 (lima) bulan dan denda sebesar Rp.20.000.000. (dua puluh juta rupiah) bila tidak dibayarkan diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan," ujar majelis yang diketuai Rika Mona Pandegirot dengan anggota Rusdiyanto Loleh dan Ni Putu Sri Indayani.

Majelis menyatakan Juliardi menuliskan hal tersebut karena merasa sakit hati pada kejadian yang pernah dialami Juliardi, yaitu terdakwa ditilang oleh oknum polisi lalu lintas meski dokumen kendaraannya sudah lengkap, sementara ada pengendara pelanggar lain yang memberikan sesuatu dan langsung dibebaskan.

"Semua kalimat tersebut terdakwa tujukan kepada kinerja kepolisian yang tidak melakukan klarifikasi atas banyaknya kejadian tentang pengambilan paksa jenazah di beberapa rumah sakit yang ada di dalam Sulawesi Selatan dan Luar Sulawesi Selatan," ujar majelis.

Terkait singkatan Polisi: Periksa Orang Lihat Situasi, majelis menyatakan bukanlah sebuah singkatan. Ia menuliskan kalimat itu karena pernah mendengar dari orang lain singkatan tersebut.

"Majelis hakim berpendapat unsur ketiga ini telah terpenuhi dan terbukti (unsur yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik)," ucap majelis.

Hal yang memberatkan terdakwa ialah perbuatan Juliardi dinilai meresahkan masyarakat. Adapun hal yang meringankan adalah berlaku sopan dalam persidangan.

"Terdakwa mengakui terus terang dan menyesali atas perbuatannya. Terdakwa belum pernah dihukum," beber majelis dalam sidang pada 7 Oktober 2020 lalu.

(asp/knv)