Doni Paparkan Kemampuan Periksa Spesimen COVID-19, Tepis Terendah di Dunia

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 14:01 WIB
Doni Monardo
Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo (Dok. BNPB)
Jakarta -

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo memaparkan kemampuan pemeriksaan spesimen virus Corona di Indonesia. Doni menyebut ada peningkatan kemampuan pemeriksaan spesimen sejak awal pandemi lalu.

"Sekarang ini rata-rata harian pemeriksaan spesimen kita telah berada pada angka di atas 40 ribu spesimen per hari. Pernah mencapai lebih dari 50 ribu spesimen per hari. WHO mensyaratkan setiap negara itu harus melakukan pemeriksaan, idealnya ya, 1 warga negara untuk 1.000 orang penduduk dibandingkan dengan jumlah penduduk secara menyeluruh per minggu," kata Doni dalam siaran yang ditayangkan kanal YouTube BNPB, Kamis (22/10/2020).

Doni mengatakan ada banyak pihak yang pesimistis dengan kemampuan testing Corona dari pemerintah. Namun kini, menurut Doni, kemampuan testing di Indonesia sudah jauh meningkat, bahkan mendekati standar WHO.

"Kalau Indonesia jumlah penduduknya 267 juta orang, berarti tiap minggu pemerintah Indonesia itu diharapkan bisa melakukan pemeriksaan sebanyak 267 ribu orang. Sementara kalau pemeriksaan spesimen harian rata-rata itu sudah melampaui 270 ribu spesimen. Namun, ada kalanya, 1 orang itu sampelnya lebih dari 1 sehingga kemampuan kita rata-rata sekarang ini adalah sekitar 33 ribu orang per hari," jelas Doni.

"Artinya, ini peningkatan yang luar biasa. Pada awal kita melakukan pemeriksaan laboratorium itu, kemampuan kita mungkin ya hanya belasan persen saja dari standar yang ditetapkan oleh WHO. Dan sekarang sudah berada pada posisi 82,51 persen. Sebuah angka yang harus kita akui cukup membanggakan," lanjut dia.

Doni mengatakan kemampuan testing spesimen Corona di Indonesia saat ini sudah melampaui target yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yaitu 30 ribu spesimen per hari. Kepala BNPB itu pun menepis jika kemampuan pemeriksaan spesimen Corona di Indonesia terendah di dunia.

"Menurut saya kurang tepat (testing spesimen Corona di Indonesia terendah di dunia). Jadi kalimat itu mungkin mengambil data-data yang sudah lama, kalau yang data-data yang pertama memang benar, jumlah lab kita terbatas, pemeriksaan spesimen juga terbatas, petugas tracing-nya juga sangat sedikit," ungkap Doni.

Kerja sama kementerian/lembaga, kata Doni, membuat kemampuan pemeriksaan spesimen Corona di Indonesia meningkat. Laboratorium yang dimiliki kementerian/lembaga pun dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan spesimen Corona setiap harinya.

"Dengan kerja sama seluruh komponen, terutama dari Kementerian Kesehatan dan juga didukung oleh semua kementerian/lembaga yang punya laboratorium, seperti Kemendikbud, di perguruan tinggi ada laboratorium-laboratorium, kemudian Kemenag di rumah sakit yang di bawah kendali Kemenag," ujar Doni.

"Kemudian ada lab miliknya BUMN, ada lab miliknya BPOM, ada lab miliknya Kementerian Pertanian, ada lab milik TNI dan Polri, ada lab milik swasta. Jadi cukup banyak kementerian/lembaga yang memiliki lab yang kita dorong semuanya untuk mendukung tugas pemeriksaan spesimen untuk COVID ini," pungkasnya.

(azr/dhn)