Menko PMK: Wilayah Paparan Corona Rendah Bisa Jadi Tak Diwajibkan Divaksin

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 17:12 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy
Menko PMK Muhadjir Effendy (Foto: dok. Kemenko PMK)
Jakarta -

Menko PMK Muhadjir Effendy memaparkan daerah yang diprioritaskan untuk vaksin virus Corona (COVID-19). Muhadjir mengatakan vaksin akan diprioritaskan bagi daerah dengan risiko penularan yang tinggi.

"Kan begini, tujuan vaksin itu untuk membangun yang namanya herd immunity, yaitu kekebalan kawanan. Kekebalan kawanan menurut standar ideal WHO adalah 70 persen dari populasi penduduk, tetapi itu dengan asumsi seluruh penduduk itu memiliki tingkat kerentanan atau tingkat keterancaman terhadap wabah sama. Jadi viral load-nya merata dan sama, itu 70 persen," kata Muhadjir melalui siaran YouTube Kemenko PMK, Rabu (21/10/2020).

Muhadjir mengatakan tingkat penularan atau viral load COVID-19 di tiap-tiap daerah tidaklah sama. Pemerintah akan memetakan daerah yang akan menjadi prioritas vaksin.

"Tetapi berdasarkan kasus di Indonesia itu tidak semua daerah sama. Seandainya di provinsi pun hanya terpusat di beberapa kota bahkan di kota itu tidak seluruh bagian kota, dan itu nanti akan dipetakan. Sesuai dengan arahan dari Pak Presiden pertemuan khusus yang membahas vaksin itu Bapak Presiden menyampaikan bahwa itu supaya dipetakan dengan detail tentang kondisi lapangan termasuk yang dipertimbangkan adalah viral load-nya di masing-masing daerah," kata dia.

Muhadjir mengatakan bagi daerah dengan penularan tinggi, maka 70 persen penduduk akan disuntik vaksin. Sebaliknya, di daerah dengan laju penularan rendah, Muhadjir menyebut ada peluang bahwa tidak akan ada vaksinasi di daerah tersebut. Seperti daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) serta tidak ada kasus Corona.

"Tentu untuk daerah yang viral load-nya tinggi maka bisa saja diterapkan 70 persen penduduk divaksin. Tapi untuk viral load-nya rendah, wilayah-wilayah yang tingkat keterpaparannya rendah, bisa jadi penduduknya tidak diwajibkan, tidak divaksinasi," kata dia.

"Kalau di wilayah tertentu untuk datang ke sana saja sulit, apalagi COVID, pasti juga lebih sulit, apalagi COVID dibawa orang, kalau orang nggak pernah ke sana, nggak mungkin COVID-nya jalan sendiri ke tempat itu. Karena itu untuk wilayah yang sulit untuk dijangkau dipastikan mungkin tidak perlu ada vaksinasi ke sana. Tidak perlu repot-repot membawa vaksin untuk diberikan atau diinjeksikan untuk penduduk yang ada di sana," kata dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2