Banyak Warga Pinrang Korban Perang, Bupati Harap Kompensasi Belanda Terwujud

Muhammad Taufiqqurrahman - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 14:39 WIB
Ilustrasi Perang Surabaya 10 November 1945
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Makassar -

Bupati Pinrang Irwan Hamid berharap kompensasi bagi anak-anak korban eksekusi serdadu Belanda pada masa perang kemerdekaan dapat terwujud. Sebab, wilayah Suppa, Pinrang, menjadi saksi hidup soal banyaknya korban tewas oleh serdadu Belanda.

"Harapan kami warga daerah itu artinya harapan besarnya kalau ada kompensasi harus selesai. Itulah tentu harapan semua keluarga yang ditinggalkan, tentu sangat berharap sekali," kata Irwan saat berbincang dengan detikcom, Rabu (22/10/2020).

Menurutnya, data-data korban oleh serdadu Belanda selama masa perang kemerdekaan di wilayah Suppa berada di Yayasan 45 di Makassar. Salah satu warganya, Andi Moenji, juga pernah memberikan kesaksian di pengadilan Belanda beberapa waktu lalu.

Andi Moenji oleh Pengadilan Belanda mendapatkan ganti rugi dikarenakan ayahnya dieksekusi oleh serdadu Belanda di Desa Suppa, Pinrang.

"Kalau kita ikuti prosedur saja, kita lihat teman teman yang lain. Saya khawatir mengikhlaskan, tetapi tidak bagi teman teman yang lain," sebutnya.

Irwan mengatakan, ayah mertuanya yang bernama Andi Isya juga merupakan salah satu korban kekejaman serdadu Belanda. Andi Isya, kata Irwan, menjadi salah satu orang pertama yang dieksekusi oleh Belanda di wilayah Parepare.

"Dia ditangkap dan dieksekusi di sana. Dia dieksekusi bersama bapaknya, Andi Oddang," ungkapnya.

Sebelumnya, pemerintah Belanda menawarkan kompensasi bagi anak-anak korban eksekusi serdadu Belanda pada masa perang kemerdekaan. Ganti rugi yang ditawarkan sebesar Rp 86 juta. Kepastian itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Stef Blok dan Menteri Pertahanan Belanda An Bijleveld dalam suratnya kepada parlemen.

(tfq/nvl)