Omnico & ITC Diminta Tak Rebutan Piring Monorel Jakarta
Kamis, 19 Jan 2006 12:56 WIB
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menyarankan PT Omnico Singapore Pte Ltd lewat PT Maglev Indonesia tetap bergandengan tangan dengan PT Indonesia Transit Central (ITC) dalam konsorsium PT Jakarta Monorail. Keduanya diminta tidak berebut piring pembangunan monorel di Jakarta."Kalau ITC masih sanggup, mereka kan satu perahu dulunya, kenapa harus berebut piring seperti itu? Mending mereka bekerjasama," kata Sutiyoso usai memimpin apel kesiagaan banjir di Silang Monas Selatan, Jakarta, Kamis (19/1/2006).Sebelumnya, Omnico lewat PT Maglev Indonesia menyatakan kesanggupannya untuk melakukan financial closing atau penandatanganan perjanjian fasilitas pembiayaan dalam rangka pengerjaan proyek monorel di DKI Jakarta.Representatif konsorsium PT Maglev Indonesia, Emir Baramuli, menjamin financial closing dapat dilakukan dalam waktu 30 hari kerja. Bank yang sudah bersedia membiayai adalah Bank KEXIM dan WOORI Bank yang merupakan bank nasional di Korea Selatan. Surat kesediaan dari bank itu sudah diperlihatkan kepada perwakilan Pemprov DKI serta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI pada pertemuan tanggal 28 Desember 2005.Emir meyakinkan akan segera melakukan pembuktian penyetoran modal kerja sebesar 50 juta dolar AS dalam waktu 30 hari setelah Pemerintah DKI melakukan penunjukan.Sebab hingga kini PT Jakarta Monorail, selaku pengembang proyek monorel, belum juga menyelesaikan financial closing sejak Perjanjian Kerja Sama pengerjaan proyek monorel ditandatangani pada 31 Mei 2004. Pemerintah DKI bahkan memberikan toleransi waktu sampai 31 Januari 2006 untuk penyelesaian financial closing tersebut.PT Maglev Indonesia menyatakan kesanggupan investasi 600 juta dolar AS dengan sistem Maglev (magnetik levitation) Rapit Transportasi dari Rotem Hyundai Group Korea. Surat kesanggupan itu telah diajukan kepada Pemerintah DKI per tanggal 16 Januari 2006.Sebelumnya, Omnico sudah pernah menawarkan teknologi maglev ini untuk monorel. Secara bersamaan, PT ITC juga menawarkan teknologi model straddle type (menunggang pada balok beton) dari Konsorsium Indonesia Teknologi yang tergabung dalam Indonesia Consortium for Monorail Industry (ICMI). Konsorsium ini terdiri dari beberapa perusahaan lokal yaitu PT INKA, PT Bukaka, PTLEN Industri, AG dan Siemens.Tarik ulur dua tawaran teknologi itu melahirkan perdebatan alot sampai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa. Gubernur DKI Sutiyoso sempat turun tangan menengahi. Akhirnya Jakarta Monorail memilih teknologi yang ditawarkan PT ITC dengan pertimbangan biaya lebih murah. Teknologi ini merupakan teknologi monorel generasi kedua, sedangkan maglev generasi ketiga.Saham Jakarta Monorail sebanyak 55 persen kini dikuasai PT Indonesia Transit Central (ITC) yang merupakan gabungan perusahaan PT Adhi Karya (Persero), Global Profex Synergy, dan PT Radian Pillar Pasifik. Sisa saham lainnya dipegang Konsorsium Omnico yang terdiri dari Singapore MRT Engineering Pte Ltd, Singapore Technologies Electronic Ltd, Gema Holdings, dan Hitachi Asia Ltd. Namun dalam hal kepemilikan saham ini, saham Konsorsium Omnico diturunkan dari 45 persen ke posisi 1,2 persen. Keputusan pengurangan saham itu hasil pertemuan Jakarta Monorail tanggal 9 Desember 2005 setelah ITC menyetor modal sehingga saham Omnico terdilusi.
(umi/)











































