Jazilul: Hari Santri Adalah Semangat Agama Bertemu dengan Nasionalisme

Yudistira Imandiar - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 14:11 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan peringatan Hari Santri merupakan cerminan agama dapat berjalan selaras dengan nasionalisme. Ia memandang para santri tidak akan mempertentangkan kepentingan agama dan negara.

Hal itu disampaikan Jazilul saat mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bertema 'Semangat Hari Santri dan Penguatan Empat Pilar MPR Untuk Indonesia Maju' di Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Kegiatan tersebut dihadiri anggota MPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Mohammad Rano Alfath, Ketua GP Ansor Tangerang Selatan Ahmad Fauzi, Ketua GP Ansor Ciputat Timur Fauzul Arif; dan Rois Syuriah NU Ciputat Timur KH. Imam Abda.

Di hadapan ratusan peserta yang didominasi anak muda, termasuk para santri, Jazilul menyampaikan penetapan Hari Santri didasari pada momen Deklarasi Resolusi Jihad yang dipimpin KH Hasyim Ashari.

Ia mengatakan Deklarasi Resolusi Jihad menjadi satu rangkaian perjuangan Bangsa Indonesia. Dimulai dari Proklamasi 17 Agustus 1945, Deklarasi Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, dan Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945

"Hari Santri adalah suatu semangat di mana agama bisa bertemu dengan paham nasionalisme," sebut Jazilul dalam keterangannya, Selasa (20/10/2020).

Jazilul mengatakan, Bangsa Indonesia saat ini masih harus berperang. Bukan lagi melawan penjajah, tapi berjuang mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Perjuangan itu, menurut dia, butuh semangat dan tekad besar dari para pemuda, termasuk santri.

Jazilul berharap dengan semangat Empat Pilar dan Hari Santri, apa yang menjadi pekerjaan besar bangsa Indonesia, antara lain melawan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, bisa diselesaikan. Di sisi lain, ia merasa kecewa sebab bangsa ini justru lebih sibuk memperbincangkan masalah-masalah yang tidak produktif, seperti banyaknya hoaks.

"Untuk itu kita perlu merenungkan kembali apa tujuan kita bernegara," ungkap Jazilul.

(ega/ega)