Ketua KAMI Medan Ajukan Praperadilan Status Tersangka Picu Demo Ricuh

Datuk Haris Molana - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 17:24 WIB
Pengacara ajukan praperadilan tersangka ketua KAMI Medan (Datuk-detikcom)
Pengacara mengajukan praperadilan tersangka Ketua KAMI Medan. (Datuk/detikcom)
Medan -

Polisi telah menetapkan Ketua Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Medan, Khairi Amri, sebagai tersangka dugaan memicu ricuh demo menolak omnibus law UU Cipta Kerja. Khairi yang tak terima penetapan tersangka itu mengajukan praperadilan.

Pengacara Khairi Amri yang juga Ketua Korps Advokat Alumni Universitas Muhammadiyah Sumut, Mahmud Irsyad Lubis, mengatakan pihaknya telah mendapat kuasa dari Khairi untuk mengajukan praperadilan. Mereka kemudian mendaftarkan gugatan praperadilan ke PN Medan, Senin (19/10/2020), dan mendapat akta praperadilan dengan nomor: 73/Pid.Pra/2020/PN.MDN.

Mahmud menyebut Khairi menjadi tersangka karena diduga melanggar Pasal 45 UU ITE dan Pasal 160 KUHP. Pihaknya kemudian menyebut tiga alasan mengajukan praperadilan, yakni penetapan tersangka, penangkapan, dan penahanan.

"Berdasarkan putusan MK, semua perkara pidana yang kami dalilkan tadi termasuk penyitaan dan penggeledahan itu dimaknai berdasarkan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang cukup. Nah, Khairi Amri itu ditangkap pada hari Jumat, pada waktu aksi tanpa dua alat bukti yang cukup, dia ditangkap karena dituduh menyebarluaskan ujaran kebencian dan menghasut untuk melakukan tindak kekerasan dalam grup WA sebanyak 50 orang, grup WA KAMI Medan," ujar Mahmud.

Dia menyebut isi WhatsApp Group KAMI Medan baru diketahui setelah ada penangkapan. Mahmud mengatakan hal tersebut membuat penangkapan tidak sah.

"Karena itu kami memandang penangkapan dan penahanan atas diri Khairi Amri yang didahului dengan penetapan tersangka tidak sah, bertentangan dengan peraturan yang ada dan peraturan dan putusan mahkamah sendiri sebagaimana telah kami uraikan di dalam permohonan praperadilan kami," sebut Mahmud.

Dia juga mengatakan Khairi Amri tidak mendanai atau merencanakan aksi-aksi tersebut. Menurutnya, Khairi hanya mendapat penjelasan dari salah satu anggota grup WA soal bantuan Rp 500 ribu dari hamba Allah untuk membantu mahasiswa yang melakukan aksi.

"Ibu Sherly yang memaparkan kepada Khairi Amri bahwa ada bantuan Rp 500 ribu dari hamba Allah, untuk membantu para mahasiswa yang melakukan aksi. Rp 500 ribu tersebut pun karena beliau ini, beliau tukang ojek ini, jadi tukang ojek coba meruntuhkan negara kita belum bisa berpikir ke arah sana," ujar Mahmud.

Selanjutnya
Halaman
1 2