Soal Pencarian Tentara AS Perang Dunia II, Ini Saran Balai Arkeologi Papua

Idham Kholid - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 10:53 WIB
Monumen Jenderal Mac Arthur di Ifar Gunung, Sentani. Jenderal Mac Arthur merupakan pimpinan pasukan AS saat perang dunia kedua melawan Jepang.
Foto: Monumen Jenderal Mac Arthur di Ifar Gunung, Sentani. Jenderal Mac Arthur merupakan pimpinan pasukan AS saat perang dunia kedua melawan Jepang. (Dok Badan Arkeologi Papua)
Jakarta -

Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Prabowo Subianto dan Menhan Amerika Serikat (AS), Mark T Esper di Pentagon, Washington AS, meneken nota kesepakatan upaya pencarian tentara AS yang hilang di Indonesia saat perang dunia ke-2. Perang antara Pasukan AS dan Jepang itu terjadi di Papua.

"Langkah Amerika akan merepatriasi kerangka tentaranya yang gugur dalam Perang Dunia II tentu membutuhkan beberapa proses dan waktu yang tidak sedikit. Perlu dibuka arsip catatan jalannya perang, arsip peta, maupun data dukung yaitu benda-benda peninggalan perang," kata Peneliti Badai Arkeologi Papua Hari Suroto, Senin (19/10/2020).

Repatriasi adalah pemulangan kembali orang ke Tanah Airnya. Hari mengatakan perlu dilibatkan arkeolog dalam repatriasi kerangka pasukan Amerika tersebut. Kerangka pasukan Amerika ini tentu saja dalam kondisi fragmentaris atau tidak utuh.

"Sehingga dibutuhkan penelitian ilmiah lebih mendalam bahwa tulang-tulang tersebut adalah memang betul-betul pasukan Amerika," ujarnya.

Hari menjelaskan, pemerintah Jepang sejak 2011 aktif merepatriasi kerangka pasukan Jepang yang gugur di Papua. Berkarung-karung tulang belulang pasukan Jepang dikremasi dan abunya dibawa ke Jepang.

Sebenarnya, lanjut Hari, kerangka tentara Jepang berdasarkan UU No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, merupakan peninggalan yang dilindungi. Namun, mendikbud pada waktu itu, M Nuh dengan pertimbangan kemanusiaan, tulang-tulang tentara Jepang ini boleh diambil dan dikembalikan ke Jepang.

"Belajar dari repatriasi kerangka pasukan Jepang sebelumnya. Pihak tim repatriasi Jepang mengklaim ada satu tengkorak yang dianggap sebagai tengkorak Jepang, padahal di sela-sela giginya ada serat buah pinang, apakah pasukan Jepang itu juga makan pinang di Papua? Tentu penelitian ilmiah sangat dibutuhkan untuk menguatkan klaim bahwa itu merupakan tulang pasukan Amerika, pasukan Jepang atau orang Papua," paparnya.

Selain perlu dilihat ciri fisik kerangka terutama tengkorak kepala, Hari menerangkan, juga perlu dilihat benda-benda yang menyertai pasukan yang gugur tersebut, misalnya tanda pengenal atau senjata.

"Tidak hanya itu biasanya di sekitar kerangka baik itu pasukan Jepang atau pasukan Amerika selalu ada benda yang berasal dari negara mereka untuk mendukung aktivitas perang baik itu makanan atau obat-obatan. Yang unik adalah di lokasi bekas markas Amerika di Papua sering ditemukan botol coca cola, sedangkan masras pasukan Jepang ditemukan botol sake," ujarnya.

Sebelumnya, Hari menjelaskan satu-satunya wilayah Indonesia yang menjadi saksi pertempuran langsung antara Pasukan Amerika dengan Jepang pada Perang Dunia II atau disebut juga Perang Pasifik adalah Papua. Waktu itu, Pasukan Amerika Serikat di bawah pimpinan Jenderal Douglas Mac Arthur. Mereka menjadikan Sentani sebagai pangkalan terbesar pasukan Amerika.

Selanjutnya
Halaman
1 2