Round-Up

Kabar Mengejutkan Pollycarpus Meninggal Dunia Akibat Corona

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 18 Okt 2020 06:09 WIB
Ilustrasi fokus (bukan buat insert) Pollycarpus Bebas Murni (Andhika Akbaryansyah/detikcom)
Foto: Pollycarpus Budihari Prijanto. ((Andhika Akbaryansyah/detikcom).

Tak banyak kabar soal Pollycarpus setelah bebas dari Lapas Sukamiskin. Polly dinyatakan bebas murni pada 29 Agustus 2018.

"Ya senang sekali, sudah nggak ada beban lagi. Ganjelan ya sudah nggak adalah," kata Pollycarpus setelah mendatangi Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bandung, Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu (29/8/2018).

Polly mengatakan, setelah bebas murni, dia akan berfokus menekuni dunia penerbangan sesuai dengan kapasitasnya. Dia akan melanjutkan pekerjaan sebagai pengurus di PT Gatari Air Service. Perusahaan di bidang penerbangan itu disebut-sebut milik Tommy Soeharto.

Kemudian, Pollycarpus pun disebut-sebut bergabung dengan Berkarya bersama Muchdi Pr pada 2018. Saat itu, Berkarya dipimpin oleh Tommy.

"Semua orang punya hak politik untuk menyalurkan aspirasinya. Mungkin beliau melihat Partai Berkarya cocok untuk menyalurkan aspirasi poltiknya. Kita nggak membatasi, yang penting mereka memenuhi syarat, kan. Ia punya hak suara yang sama, seorang Pollycarpus dengan seorang presiden ya sama satu suara," urai Badaruddin Andi Picunang, Selasa (6/3/2020).

Meski begitu, Pollycarpus sempat membantah dirinya bergabung ke partai politik. Polly mengaku memang mendapat banyak tawaran terjun ke partai politik. Namun dia menegaskan tak tertarik menekuni dunia politik.

"Oh Partai Berkarya, saya nggak masuk saya. Saya nggak ikut partai. Tawaran ke partai dari temen-temen aja ngajakin, tapi nggak suka politik," ucap Pollycarpus.

"Tidak membidangi untuk politik. Saya nggak mau, jadi saya lebih suka kerja profesional," imbuhnya.

Kasus kematian Munir masih menyisakan misteri. Salah satu misteri terbesar yang mengitari kasus kematian Munir adalah raibnya hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF). Oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), dokumen yang antara lain berisikan nama-nama orang yang ikut terlibat itu dinyatakan hilang pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun SBY melalui mantan Menteri Sekretariat Negara Sudi Silalahi mengatakan pihaknya telah menyerahkan dokumen tersebut.

Demikian juga kesaksian Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Prabowo, menyebut dokumen TPF telah diterima di Istana Negara pada 26 Oktober 2016 melalui kurir. Istri Munir, Suciwati, lalu mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo terkait misteri keberadaan hasil penyelidikan TPF Munir.

Eks pengacara Pollycarpus, Wirawan Adnan, masih memberikan pembelaan untuk mantan kliennya. Ia menyebut Pollycarpus tidak bersalah dalam kasus kematian Munir.

"Saya adalah salah satu yang hingga hari ini tidak percaya bahwa Pollycarpus bersalah atas dakwaan membunuh Munir. Saya telah membuat tesis di UGM perihal pembuktian atas dakwaan tersebut, dan saya lulus dengan nilai A. Yang ingin saya sampaikan secara yuridis dan akademis, Pollycarpus sebenarnya tidak terbukti melakukan pembunuhan terhadap Munir," ujar Wirawan hari ini.

Halaman

(elz/isa)