Begini Pendekatan TGPF ke Warga Intan Jaya Usut Penembakan Pendeta Yeremia

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 15:34 WIB
Jumpa pers Mahfud Md dan TGPF penembakan pendeta di Papua
TGPF Intan Jaya (Tiara Aliya Azzahra/detikcom)
Jakarta -

Ketua investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kemenko Polhukam Benny Mamoto mengungkapkan pendekatan yang digunakan oleh timnya dalam mengungkap kasus-kasus penembakan di Intan Jaya, Papua, termasuk Pendeta Yeremia Zanambani. Benny mengatakan hal pertama yang dilakukan adalah memahami adat dan kebiasaan masyarakat setempat.

"Ketika dulu saya jadi penyidik, kalau kita meriksa orang-orang atau saksi di kota, tidak ada kendala karena mereka sudah biasa bergaul dengan masyarakat multi-etnis. Tetapi, ketika masuk ke daerah yang adatnya masih kuat, kemudian homogen, dalam arti mereka tidak multi-etnis atau sub-etnis, kemudian tingkat pendidikannya terbatas karena kondisi lingkungan alam dan sebagainya," kata Benny saat jumpa pers yang disiarkan secara daring, Sabtu (17/10/2020)

"Kemudian lagi di mana masyarakat itu masih terikat adat dengan kuat, bagaimana peran tokoh agama dan tokoh masyarakat begitu kuat, maka ketika kita akan bertemu mereka, baru bertemu nih, belum bicara, kita harus pahami betul adat istiadat yang ada di situ," imbuhnya.

Benny menuturkan penggunaan bahasa untuk berkomunikasi dengan masyarakat di Papua harus diperhatikan. Dia mencontohkan pada saat pertama kali menyapa masyarakat di Intan Jaya, tim dibantu oleh tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

"Contoh, penggunaan kata ini harus hati-hati agar, ketika kami mau masuk, kita perlu tanya dulu sapaan yang tepat apa untuk merasa dekat dan diterima, jabat tangan itu juga kita pelajari dulu. Setelah dapat masukan dari tokoh masyarakat dan agama yang ada di TGPF yang bersama kami, ketika kami beraudiensi dengan mereka, ketemu di kediaman. Langkah itu kita lakukan, mereka langsung menerima, terlebih penerjemahnya dari tim kami sendiri," tutur Benny.

Setelah diterima, Benny kemudian menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya bersama TGPF. Benny menyampaikan dirinya bersama tim diutus Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menko Polhukam Mahfud Md sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap warga Papua atas beberapa insiden penembakan di sana.

"Setelah masuk, menjelaskan maksud tujuan, kemudian panjang-lebar kami berdiskusi, kemudian kami sampaikan kami diutus dari Jakarta oleh Bapak Jokowi, Bapak Menko Polhukam untuk merespons apa keluhan apa laporan yang disampaikan ke beliau," jelas Benny.

"Jadi kami diutus datang ke sini jauh-jauh ke daerah terpencil seperti ini karena kami perduli. Ini penting disampaikan sehingga mereka paham betul bahwa kedatangan kita, kedatangan yang penuh empati," lanjutnya.

Setelah itu, Benny dan tim mengunjungi makam almarhum Pendeta Yeremia bersama keluarganya didampingi tokoh agama dan tokoh adat setempat. Dengan begitu, kata Benny, timbul suasana akrab hingga akhirnya proses investigasi dapat dituntaskan.

"Mulai tumbuh suasana keakraban. Kami diterima baik. Kemudian, setelah jelaskan arti penting seperti contoh, kalau Ibu menghendaki kasus ini ke pengadilan, ada syarat, salah satunya adalah kesaksian, Ibu mohon ditandatangani. Tanpa itu, kita tidak bisa," sebut Benny.

Ia juga menceritakan pendekatannya kepada keluarga Pendeta Yeremia, termasuk istrinya, agar berkenan memberi persetujuan autopsi. Kepada keluarga Pendeta Yeremia, Benny dan tim mengungkapkan perlunya autopsi jika kasus penembakan hendak diusut.

"Salah satu bukti yang harus dibawa (ke pengadilan) adalah visum, diperlukan autopsi karena di situ akan terbukti penyebab kematian. Panjang-lebar kita berdiskusi. Kita tidak serta minta langsung tanda tangan karena itu prosesnya ada di Sugapa waktu itu di kantor Bupati kita pertemuan lanjutan. Inilah tahapan kita datang menyatu dengan mereka," ucapnya.

TGPF telah selesai bekerja dan akan melaporkan hasil temuannya kepada Menko Polhukam Mahfud Md pada Senin (19/10). Mahfud Md membentuk TGPF kasus penembakan di Intan Jaya atas permintaan Presiden Jokowi yang merespons surat dari Persekutuan Gereja Injil Indonesia (PGII) atas pembunuhan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani pada Sabtu (19/9).

TGPF Intan Jaya juga dibentuk untuk menyelidiki terkait rentetan penembakan yang terjadi di Intan Jaya. TGPF sudah berada di Timika sejak Rabu (7/10). Mereka lalu bergerak ke Sugapa guna mencari fakta-fakta penembakan yang menewaskan 2 anggota TNI, 1 warga sipil, dan 1 pendeta itu.

TGPF sempat dihadang dan ditembaki KKB setelah melakukan olah TKP. Dua orang terkena tembakan, yakni Satgas Apter Hitadipa Sertu Faisal Akbar. Dia mengalami luka tembak di pinggang dan dosen UGM yang masuk ke dalam TGPF, Bambang Purwoko, yang mengalami luka tembak di pergelangan kaki kiri dan pergelangan tangan kiri.

(elz/ear)