DPRD Surabaya Minta Pemkot Beri Ruang Khusus ke Perajin Keris

Nurcholis Maarif - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 10:57 WIB
Keris
Foto: dok. Istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya AH Thony mengaku prihatin terhadap perajin keris di Surabaya dan mendorong Pemerintah Kota Surabaya agar memberikan ruang khusus untuk mereka sebagai salah satu pelestarian warisan budaya Indonesia. Hal itu diucapkannya usai sidak perajin keris di tempat penampungan sementara (TPS) Pasar Turi.

Ia tidak menduga di Kota Surabaya banyak ditemukan empu yang membuat benda pusaka keris yang merupakan warisan budaya Indonesia. Keris juga sudah diakui oleh UNESCO. Thony mengatakan para perajin keris itu masih bertahan membuat dan menjual keris usai kebakaran Pasar Turi beberapa waktu lalu.

"Kami melihat mayoritas pemuda yang tinggal di sini merupakan warga asli Surabaya. Jadi sebagai wakil rakyat, cukup berbangga di Surabaya ternyata masih ada empu di sini yang masih setia untuk meneruskan warisan leluhur," kata AH Thony dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2020).

Menurut Thony, para pembuat keris ini masih konsisten dalam konservasi budaya bangsa. Jika sebelumnya pembuat keris identik dengan Solo dan Yogyakarta, maka Surabaya pun punya.

"Secara kasat mata, penampilan memiliki arti art cukup tinggi. Ketika kita dekati dengan keilmuan. Maksud saya spirit itu ada. Nah sekarang tinggal pemerintah harus hadir. Perda tentang memajukan kebudayaan itu memang dibutuhkan dan penting untuk Surabaya dengan tujuan agar perajin bisa fokus dalam mengembangkan potensinya dan pemerintah bisa menjadi fasilitator untuk distribusinya. Sedangkan DPRD sebagai regulator akan membuatkan (mendorong Perda)," ungkap Thony.

Politisi dari Partai Gerindra tersebut menegaskan dengan adanya Perda memajukan kebudayaan bertujuan agar para perajin bisa mendapatkan tempat yang layak (ruang pamer dan workshop) dan juga permodalan untuk memajukan usaha.

"Kami menemukan benang merah, apa yang kita temukan di THR kemarin dan kita temukan di sini. Kalau di THR kemarin, adalah dalam rangka mensinergikan bentuk teknologi, budaya dan di sini kita menemukan pelaku pelestari budayanya ada di sini," ucapnya.

"Sehingga nantinya saat revitalisasi THR disepakati sebagai pasar seni atau pusat budaya di Kota Surabaya, maka teman-teman di sini bisa dipindah ke sana. Sehingga mendapatkan tempat yang layak dan showbiz memamerkan produk-produknya," lanjut Thony.

Sedangkan impact yang lain dari kerajinan keris ini menurut Thony, Pemkot Surabaya bisa menjadikan souvenir atau oleh-oleh ketika ada acara besar dari Kota Surabaya. Namun, hingga kini mereka masih belum tersentuh pasca kebakaran Pasar Turi lama. Setahun terakhir mereka juga belum mendapatkan penghasilan yang seperti saat ramai dulu.

"Setahun terakhir mereka belum mendapatkan hasil, bahkan tempat yang layak. Kenapa mereka terus bertahan, karena dari pengakuan mereka semata-mata ingin meneruskan waris para leluhurnya. Kami mendorong Dinas Pariwisata dan Dinas Ekonomi untuk melakukan pendampingan dan produknya bisa distribusikan ke dinas-dinas," ungkap Thony.

Sementara itu, Handys, salah satu perajin keris warga Surabaya kelahiran Sumenep berharap ingin mendapatkan perhatian dari Pemkot Surabaya.

"Kami ingin melestarikan karena cikal bakal pengenalan keris ini ada di Pasar Turi. Pesannya kita harus melestarikan sampai anak cucu kita. Pasca kebakaran kita masih bertahan. Jadi sekarang kami berharap kepedulian Pemerintah memperhatikan kami sebagai pelestari budaya untuk ke depannya lebih maju," kata Handys.

Handys mengungkapkan sebelum stannya di Pasar Turi lama terbakar beberapa tahun yang lalu, ia bisa mengekspor keris ke berbagai negara di Asia dan Eropa. Namun saat ini pihaknya hanya menjalankan secara online meski tidak maksimal.

"Kalau di Asia kita jualannya ke Malaysia, Singapura. Kalau Eropa, kita ke Belanda dan Amerika," tandas Handys.

(prf/ega)