Round-Up

Dubes RI untuk Saudi Jawab Desakan Pemecatan hingga Tuduhan Agen BIN

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 05:34 WIB
Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel
Agus Maftuh (Foto: Dok Pribadi)

Agus merespons balik pernyataan Slamet tersebut. Agus mengatakan tuntutan pemecatan itu bukan yang pertama, bahkan dirinya pernah diancam dibunuh.

"Tanggal 22 November 2019, di depan kantor Kemenlu, mereka mengadakan demonstrasi. Tidak hanya tuntutan pemecatan diri saya, tapi juga ada ancaman pembunuhan diri saya. Rencana pembunuhan tersebut ditulis besar dalam sebuah poster," kata Agus kepada detikcom, Jumat (16/10).

"Seminggu berikutnya, 29 November 2019, mereka melakukan demonstrasi di depan Kemenko Polhukam dengan tuntutan pemecatan saya dan juga tuntutan untuk menyeret Presiden Jokowi, Menlu, KaBIN, Kapolri ke mahkamah internasional," sambung Agus.

Agus mengatakan sudah mengabdi menjadi duta besar di Saudi selama 5 tahun. Bahkan, kata Agus, dirinya mungkin menjadi duta besar terlama di Saudi.

"Soal rencana pembunuhan diri saya, semua saya pasrahkan semua kepada Allah sebagai pemilik nyawa saya. Terkait rencana kepulangan MRS ke Indonesia, KBRI tidak pernah menghalang-halangi. Kami hanya berpesan: ikuti aturan Saudi, jangan buat aturan sendiri," tutur dia.

Dia juga menjawab soal permintaan FPI agar dirinya bertobat. Agus menegaskan, tanpa diminta pun, dirinya sudah melakukan tobat setiap harinya.

"Terkait nasihat agar bertobat, saya ucapkan terima kasih. Tanpa disuruh pun, tradisi santri yang ada pada diri saya sudah otomatis tiap hari lakukan tobat," imbuh Agus.

Agus juga menjawab tuduhan FPI yang menyebut dirinya sebagai agen BIN. Agus menegaskan sejak dulu dirinya bekerja sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

"Saya itu PNS Kemenag yang kerja sebagai guru di IAIN Sunan Kalijaga sejak tahun 1989. Kok dituduh agen BIN? Aneh," kata Agus.

Bukan hanya tuduhan sebagai agen BIN, Agus mengaku juga pernah dituduh sebagai agen CIA. Tuduhan itu, kata Agus, tak berdasar.

"Kalau saya dianggap tahu gerakan jaringan teroris internasional, saya jawab: ya. Karena pernah teliti jaringan tersebut lintas negara. Tahun 2004 saya juga pernah dituduh agen CIA. ada-ada saja," ujar Agus.

Selain itu, Agus juga menyesalkan penggunaan diksi 'tsaurah' dalam siaran pers FPI terkait rencana kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia. Agus mengatakan tsaurah dalam bahasa Arab bisa bermakna kudeta.

"Kami menyayangkan dokumen berbahasa Arab yang dibaca di demo kemarin terutama diksi 'tsaurah' yang merupakan terjemahan dari 'revolusi' sangat tabu di Arab Saudi. 'Tsaurah' bisa bermakna 'inqilab' (kudeta), faudha (chaos, kekacauan), intifadhah (pemberontakan), taqatul (peperangan, saling bunuh), idhtirab (gangguan keamanan) dan tamarrud (pemberontakan)," kata Agus.

"Sangat sensitif jika dibaca oleh publik Arab Saudi. Dan saya yakin Saudi dan umat islam tidak akan rela kota suci Mekkah dipakai untuk meneriakkan 'tsaurah' terhadap negara yang syar'iyyah (konstitusional) Republik Indonesia," ujar Agus.

Agus menegaskan dirinya tidak menghalangi kepulangan Habib Rizieq ke Indonesia. Namun Agus mengingatkan agar semua pihak mengikuti aturan yang ada di Saudi.

"Terkait rencana kepulangan MRS ke Indonesia, KBRI tidak pernah menghalang-halangi. Kami hanya berpesan: ikuti aturan Saudi, jangan buat aturan sendiri," kata Agus.

Diksi tsaurah yang digunakan FPI itu termuat dalam siaran pers dalam tiga bahasa. Siaran pers itu diberi judul 'Pengumuman dari Kota Suci Makkah tentang Rencana Kepulangan IB-HRS'.

Diksi tsaurah itu ada di halaman kedua siaran pers yang menggunakan bahasa Arab. FPI mengartikan tsaurah itu revolusi.

Halaman

(knv/lir)