Kisah TGPF Papua: Ditolak, Ditembaki, Dilarang Terbang

Deden Gunawan, Sudrajat - detikNews
Jumat, 16 Okt 2020 17:36 WIB
Benny Mamoto pria kelahiran Manado Sulawesi Utara yang sejak tahun 2009 menjabat sebagai direktur Badan Narkotika Nasional (BNN).
Benny Josua Mamoto, Ketua Tim Investigasi Lapangan TGPF Intan Jaya, Papua (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta -

Aksi penembakan yang melukai dua anggota TGPF di Intan Jaya pada Jumat (9/10) lalu rupanya tak memuaskan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Ketika tim yang dipimpin Benny Josua Mamoto hendak pulang ke Jakarta, maskapai yang akan menerbangkan mereka menolak terbang. Alasannya jiwa mereka terancam bila bersedia menerbangkantim TGPF.

"Beruntung ada helikopter milik TNI-AD. Kami akhirnya diterbangkan ke Timikia, lalu terbang menuju Jakarta Senin (12/10) kemarin," kata Benny.

Hingga Rabu kemarin, dia melanjutkan, tim berhasil mewawancarai 26 saksi. Tapi mereka dipastikan tak melihat langsung peristiwa penembakan dan pembacokan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani pada 19 September 2020.

Tim cukup senang karena isteri pendeta dan keluarga akhirnya mau terbuka menceritakan apa yang terjadi. Juga mau menandantangani Berita Acara Penyidikan yang pernah dibuat polisi, dan mengizinkan autopsi terhadap jenazah pendeta.

"Itu kan menjadi pijakan awal bagi penyidik. Kalau mau ke pengadilan dan mendapat keadilan yang harus jelas penyebab kematiannya apa," kata Benny.

Selain itu, dia melanjutkan, pihak keluarga juga menyampaikan bahwa pemakaman Bapak Pendeta di hari Minggu adalah atas persetujuan mereka, bukan karena tekanan pihak tertentu seperti informasi yang beredar sebelumnya.

Dari para saksi lainnya diperoleh cerita soal sepak terjang KKB. Masyarakat sekitar mengeluhkan KKB yang kerap mencuri ternak, meminta makan, bahkan menculik perempuan. Tapi masyarakat tak berani berbuat banyak karena mereka ada yang menyusup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

"Karena itu kami melihat nyawa aparat TNI-Polisi di sana terancam setiap saat karena KKB membaur dengan masyarakat," kata Benny Mamoto yang juga Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas).


Menko Polhukam Prof Mahfud Md membentuk TGPF (Tim Gabungn Pencari Fakta) atas permintaan Presiden Joko Widodo. Langkah ini untuk merespons surat dari PGII (Persekutuan Gereja Injil Indonesia) terkait pembunuhan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani pada 19 September 2020.

Tapi selain itu, kata Benny, TGPF sejatinya juga mencari dan menghimpun informasi terkait 4-5 kasus kekerasan lain yang terjadi di Intan Jaya.

Anehnya, Dewan Gereja Papua sempat menolak pembentukan TGPF karena mengira anggotanya cuma aparat keamanan dan intelijen. Mereka khawatir Tim tak akanmampu mengungkap peristiwa secara utuh.

Benny yang memimpin tim investigasi di lapangan menepis keraguan mereka. Dia yang berpengalaman menangani kasus-kasu terorisme dan narkoba menjalankan sejumlah strategi untuk membuka blokade informasi dari masyarakat. "Kami datang dengan senyuman, dengan hati," ujarnya.

Lulusan Akpol 1977 itu mengisahkan, saat terjadi penembakan beberapa anggota TGPF panik dan syok. Maklum, beberapa dari mereka adalah orang sipil. Ada akademisi, tokoh agama, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, serta peneliti LIPI yang juga staf di Kantor Staf Presiden, yakni Jaleswari Pramodhawardani.

"Saat itu kami mengikuti semua intruksi dari aparat yang mengawal. Disuruh naik turun bukit kami lakukan. Harus tengkurap di selokan untuk menghindari tembakan, juga" kenang Benny.

Toh mereka tak ciut, meski ada aparat yang mengingatkan agar Tim sebaiknya cepat kembali ke Jakarta. Karena KKB menjadikan TGPF langsung sebagai sasaran di lapangan.

Namun Benny menegaskan Tim tidak akan pulang sebelum seluruh target tercapai. "Dan syukur saat kami pulang tidak terjadi sesuatu," ujar Benny Mamoto.

(jat/jat)