Round-Up

Dubes Agus vs FPI soal Kepulangan Habib Rizieq dari Saudi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 06:32 WIB
Habib Rizieq, Din Syamsuddin, Sinta Nuriyah datang ke rumah duka KH Hasyim Muzadi
Habib Rizieq (Foto: detikcom)

Tanggapan kemudian datang dari pihak FPI. Bagi FPI, sikap Agus Maftuh perihal Habib Rizieq itu sangat aneh.

"Ini Dubes aneh. Waktu warganya (HRS) dicekal, nggak mau tahu. Giliran cekalnya (HRS) dicabut, sibuk cari tahu dan berupaya agar dicekal lagi. Sehingga pernyataan Dubes itu menunjukkan bahwa dia salah satu variabel yang mempersulit masalah kepulangan imam besar HRS," kata Ketua DPP FPI Slamet Ma'arif saat dihubungi, Rabu (14/10).

Slamet menyayangkan sikap Agus Maftuh yang menurutnya bukan menjadi pemecah masalah. Slamet menyebut justru Agus Maftuh menyebabkan masalah Habib Rizieq tertahan di Saudi.

"Sangat disayangkan bahwa seorang dubes bukan menjadi problem solver bagi WNI di luar negeri, tapi justru menjadi bagian dari penyebab masalah," ujar Slamet.

Slamet meminta pemerintah memecat Agus Maftuh. Slamet memaparkan tiga dasar yang menjadi alasan permintaannya.

"1. Membiarkan WNI dicekal; 2. Merampas HAM WNI; 3.Tidak disukai oleh pegawai KBRI maupun KJRI," tutur Slamet.

Dubes Minta Jangan Politisasi Makkah

Selain menyoroti soal status Habib Rizieq yang belum bisa keluar dari Saudi, Dubes Agus Maftuh juga menyesalkan penggunaan istilah 'pengumuman dari kota suci Makkah' saat massa PA 212 mengumumkan rencana kepulangan imam besar FPI itu. Penggunaan istilah tersebut dianggap berpotensi menodai kesucian Makkah.

"Kami menyayangkan pemakaian diksi 'i'lan min Makkah al-Mukarramah' (pengumuman dari kota suci Makkah) yang bisa menyinggung Kerajaan Arab Saudi karena sangat berpotensi bisa menodai kesucian 'Kota Makkah' sebagai kota turunnya wahyu," kata Agus Maftuh, yang sedang berada di Makkah, kepada detikcom, Rabu (14/10).

"Dokumen tiga halaman dengan ekstensi PDF tersebut adalah merupakan 'Politisasi Kota Makkah 'Tasyis Makkah Al-Mukarramah'. Makkah bukan tempat untuk meneriakkan 'revolusi' untuk menentang pemerintahan yang resmi dan konstitusional atau dalam bahasa Saudi 'Al-Hukumah al-Syar'iyyah' Negara Kesatuan Republik Indonesia," sambung Agus Maftuh.

Pernyataan itu disampaikan Agus Maftuh setelah melakukan 'document forensic" atas siaran pers FPI mengenai rencana kepulangan Habib Rizieq. Agus Maftuh menyoroti soal penggunaan kata 'baru saja' dalam keterangan pers tersebut.

"Dokumen tiga bahasa tersebut (Indonesia, Arab, dan Inggris) 13 jam berikutnya baru dibaca di hadapan para peserta demo di kawasan Patung Kuda. Dengan penekanan kalimat: baru saja. Padahal sudah 13 jam lebih dokumen tersebut dibuat. Dokumen tersebut dibuat secara terburu-buru, sehingga tanda baca (titik) dalam versi Arabnya hampir semuanya salah tempat," ujar Agus Maftuh.

Selain itu, Agus meminta semua pihak lebih berhati-hati dalam menggunakan kata bahasa Arab. Pemilihan kata itu, sambung Agus, bisa jadi mempersulit Habib Rizieq di Saudi.

"Kami berharap semua pihak lebih hati-hati dalam memilih diksi dalam bahasa Arab yang bisa mempersulit MRS di Arab Saudi. Kata 'i'lan' itu biasa diterjemahkan dengan 'deklarasi'. Jadi dokumen tersebut bisa dibaca deklarasi revolusi dari Makkah. Coba lihat dalam kamus-kamus istilah diplomatik," ujar Agus.

FPI mencibir pernyataan Agus Maftuh tersebut. FPI menyebut Agus Maftuh tidak cocok menjadi diplomat.

"Waduh, kayaknya otak Agus Maftuh yang ternoda, Makkah memang kota suci. Agus Maftuh selaku agen BIN memang tidak cocok jadi diplomat," ujar Ketua DPP FPI Slamet Ma'arif kepada wartawan, Rabu (14/10).

Slamet menyinggung pekerjaan Dubes RI Agus Maftuh. Dia pun menyarankan agar Dubes Agus bertobat.

"Dia (Agus Maftuh) memang ditugaskan untuk operasi intelijen terhadap IB HRS (imam besar Habib Rizieq Syihab). Sekali saya sarankan, bertobatlah, Pak Dubes," tutur Slamet.

Hal senada disampaikan oleh jubir FPI Munarman. Munarman menilai tidak ada yang salah penggunaan istilah 'pengumuman dari kota suci Makkah'.

"Faktanya, Kota Makkah memang kota suci bagi umat Islam," ujar Munarman.

Menurut Munarman, hanya orang yang memiliki pemikiran kotor melarang umat Islam menyebut 'kota suci Makkah'. Dia mengatakan seseorang yang baik tidak mungkin melarang penggunaan kalimat itu.

"Hanya orang orang berotak kotor dan berhati iblis yang melarang umat Islam menyebut kota Makkah dengan sebutan kota suci Makkah al-Mukarromah," ucapnya.

"Iblis yang tidak suka dengan sebutan kota suci Makkah al Mukarromah," sambung Munarman.

Halaman

(knv/ibh)