Polisi Amankan 5 Anak SD di Demo 13 Oktober, Ngaku Diajak Buat Rusuh

Yogi Ernes - detikNews
Rabu, 14 Okt 2020 14:48 WIB
Massa berlarian usai dibubarkan pasukan Brimob dengan menggunakan gas air mata di Gambir, Jakarta, Selasa (13/10/2020).
Demo tolak omnibus law berujung rusuh (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Polisi mengamankan 1.377 orang dari demo menolak omnibus law UU Cipta Kerja kemarin. Dari jumlah tersebut, total ada lima anak sekolah dasar (SD) ikut diamankan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan lima anak SD tersebut mengaku diundang untuk melakukan kerusuhan pada demo tolak omnibus law di Jakarta, Selasa (13/10).

"Dari 1.377 ini dievaluasi 75 hingga 80 persen adalah anak-anak sekolah. Kurang lebih 800, 900 sekian. Bahkan ada lima anak SD yang umurnya sekitar 10 tahun. Mereka menyampaikan 'saya diundang dan diajak untuk melakukan kerusuhan'," kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (14/10/2020).

Sejumlah bukti yang ditemukan di handphone milik kelima anak SD tersebut ditemukan adanya ajakan ikut pergi melakukan unjuk rasa. Polisi masih mendalami pihak-pihak yang mengajak kelima anak SD tersebut terlibat unjuk rasa.

"Hampir seluruhnya mereka setiap ditanya pasti bilang undangan melalui media sosial dan diajak. Bukti-bukti yang kita temukan dari handphone pun ada, bahkan di grup mereka pun ada. Kasihan, ini yang akan kita selidiki semuanya. Jangan jadi korban anak-anak kita ini," terang Yusri.

Selain itu, terkait mayoritas pendemo yang diamankan masih berstatus remaja dan pelajar, Yusri mengatakan sejumlah alat-alat untuk membuat kericuhan juga diamankan dari para remaja tersebut.

"Kami sudah razia pun di dalam tasnya ada yang membawa katapel, ada yang membawa batu, macam-macam. Bahkan yang diamankan oleh Polres Jakpus ada yang membawa golok," beber Yusri.

Untuk itu, pihak kepolisian mengimbau para orang tua dan guru-guru di sekolah untuk lebih ketat mengawasi para anak dan peserta didik. Yusri pun mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk mengetatkan pengawasan kepada para pelajar tersebut.

"Kita mengedukasi kepada para orang tua dan keluarganya agar sama-sama kita mengawasi anak-anak kita ini, harus kita awasi. Kami juga sudah minta kepada dinas pendidikan, dari masing-masing sekolahnya, pernyataan ini akan kami serahkan ke sekolahnya masing-masing untuk jadi perhatian juga," tutupnya.

(elz/ear)