Tak Cuma Sulbar dan Riau, Keluarga Bermata Biru Juga Ada di Sumbar

Tim detikcom - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 18:11 WIB
Keluarga memiliki bola mata berwarna biru di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. (antarasumbar/Istimewa/Erick)
Keluarga memiliki bola mata berwarna biru di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. (Antara Sumbar/Istimewa/Erick)
Jakarta -

Satu keluarga di Jorong Galanggang Tangah Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, memiliki bola mata berwarna biru. Gejala ini biasa disebut sindrom waardenburg.

Tuti Fariani (58), salah seorang anggota keluarga bermata biru di Nagari Sungayang, mengatakan bola mata berwarna biru tersebut didapatkannya turun temurun dari sang ibu.

"Mata biru ini ibu dapatkan dari orang tua ibu dan hal yang sama juga terjadi kepada anak ibu," kata Tuti Fariani, Senin (12/10/2020), seperti dilansir Antara.

Ia mengatakan bola mata berwarna biru merupakan kelainan genetik langka yang bisa mempengaruhi warna kulit, rambut, mata, dan bentuk wajah.

Namun, baginya dan keluarganya, keluhan bermata biru hanya terjadi pada saat melihat cahaya matahari langsung dalam waktu yang lama. Namun sebaliknya mata biru yang dimilikinya lebih jelas saat melihat di malam hari.

Keluarga memiliki bola mata berwarna biru di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. (antarasumbar/Istimewa/Erick)Keluarga memiliki bola mata berwarna biru di Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar. (Antara Sumbar/Istimewa/Erick)

"Bagi kami keluhannya pada mata dan rambut, kalau melihat matahari spontan saja air mata keluar, tapi tidak sakit. Sementara anak laki-laki ibu yang matanya cokelat memiliki rambut putih sejak SMP," katanya.

Ia mengatakan, meski mata birunya adalah keturunan, tidak semua anggota keluarganya memiliki bola mata sama. Dia mengatakan ada keluarganya yang bermata biru sebelah, ada yang tidak terlalu biru, ada yang biru keduanya, dan ada yang tidak biru sama sekali.

Dia menyebutkan anak pertamanya memiliki mata berwarna biru sebelah kanan, sedangkan mata sebelahnya lagi berwarna cokelat. Anak kedua juga ada sedikit tapi tidak terlalu jelas birunya.

Anak yang ketiga memiliki mata biru keduanya. Anak keempat dan kelima tidak memiliki mata biru dan dia sendiri yang memiliki mata satu berwarna cokelat dan satu lagi biru.

Ia mengaku, meski memiliki warna mata berbeda dengan kebanyakan orang, ia sangat senang dengan warna matanya itu. Dia juga merasa bola mata biru sebagai sebuah kebanggaan tersendiri.

"Dulu malu karena disebut orang mata kucing, tapi sekarang tidak lagi karena banyak orang yang ingin matanya berwarna dengan menggunakan softlens," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, keluarga yang bermata biru di Indonesia dilaporkan ada di Sulawesi Barat (Sulbar) dan Riau. Dari beberapa sumber, sindrom waardenburg yang membuat mata biru itu merupakan kelainan kongenital, yang artinya kelainan sejak lahir. Kelainan ini belum ada obatnya, namun kondisi itu bisa dikelola.

Sindrom waardenburg tidak menular, tidak dapat diobati dengan obat-obatan, dan tidak disebabkan oleh gaya hidup atau faktor perkembangan. Selain itu, Sindrom waardenburg merupakan penyakit langka yang mempengaruhi sekitar satu dari 40 ribu orang.

(jbr/jbr)