Sejarah Gas Air Mata: Dari Perang Dunia hingga Usir Massa

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 14:21 WIB
Riot police use tear gas to disperse protesting employees and supporters of Zaman newspaper at the courtyard of the newspapers office in Istanbul, Turkey, late March 4, 2016. Turkish authorities seized control of the countrys largest newspaper on Friday in a widening crackdown against supporters of U.S.-based Muslim cleric Fethullah Gulen, an influential foe of President Tayyip Erdogan. REUTERS/Selahattin Sevi /Zaman Daily EDITORIAL USE ONLY. NO RESALES. NO ARCHIVE
Ilustrasi gas air mata. (REUTERS/Selahattin Sevi /Zaman Daily)
Jakarta -

Gas air mata yang digunakan polisi untuk menghalau demonstran dinilai epidemiolog bisa memperburuk penyebaran virus Corona. Sejarah gas air mata sudah dimulai sejak seabad lalu.

Dikutip dari 'Tear Gas: From the Battlefields of World War I to the Streets of Today' karya Anna Feigenbaum, amunisi serupa gas air mata sebenarnya sudah dipakai dalam Perang Dunia I (1914-1918) oleh Jerman dan Prancis. Prancis menembakkan granat gas mengandung methylbenzyl bromide ke parit pertahanan Jerman pada Agustus 1914.

Jerman membalas dengan jenis gas yang lebih mematikan, yakni gas klorin, di Ypres, Belgia, pada April 1915. Gas Jerman itu bikinan mahasiswa kimia dan farmakologi bernama Willi Siebert.

Media massa The Times dari London menyebutnya sebagai 'Penemuan Paling Terkutuk'. Soalnya, sudah ada Konvensi Den Haag pada 1899 yang melarang senjata kimia.

Digunakan untuk usir demo

Di AS, ada Jenderal Amos Fries di Amerika Serikat (AS) yang menjadi motor penggunaan gas air mata nonperang kala itu. Pada 1921, dia menceramahi pejabat militer di Perguruan Tinggi Staf Umum di Washington DC. Gas air mata yang semula digunakan untuk perang kemudian digunakan untuk menjaga ketertiban.

"Tahun 1920-an menjadi era keemasan penggunaan gas air mata," tulis Anna Feigenbaum dalam bukunya, 'Tear Gas: From the Battlefields of Wold War I to the Streets of Today'.

Pada 1921 di Philadelphia, Jenderal Fries dan rekan-rekannya melakukan praktik efek gas air mata di depan 200 polisi dan wartawan. Semua mata polisi menjadi berair. Sejak saat itu, kepolisian di AS mulai tertarik dan akhirnya menggunakan gas air mata untuk menjaga ketertiban.

Pada 29 Juli 1932, gas air mata digunakan untuk membubarkan para pejuang veteran yang berdemo menuntut gaji masa perang yang belum dibayarkan di Gedung Capitol, Washington, DC. Dua orang tewas, dua anak-anak sesak napas.

Simak juga video 'Tembakan Gas Air Mata Vs Hujan Batu Warnai Demo Omnibus Law di Harmoni':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2