Epidemiolog: Gas Air Mata saat Demo Perburuk Penularan COVID-19

Danu Damarjati - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 11:44 WIB
Polisi AS dikerahkan untuk mangatasi aksi demonstrasi terkait kematian George Floyd. Gas air mata pun ditembakkan untuk membubarkan massa aksi.
Ilustrasi gas air mata (Foto: dok. AP Photo)
Jakarta -

Salah satu cara polisi membubarkan kerusuhan demonstran penolak UU Cipta Kerja adalah dengan menembakkan gas air mata. Epidemiolog mengatakan gas air mata bisa memperburuk penularan COVID-19.

"Gas air mata dan semprotan merica aparat akan membuat pendemo 'menangis' menyebabkan hidung dan mulut mengeluarkan lendir, semuanya memperburuk penyebaran virus," kata epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, kepada detikcom, Jumat (9/10/2020).

Alumni Universitas Padjadjaran ini menjelaskan virus Corona menyebar melalui droplet, termasuk percikan ludah ketika batuk dan bersin, hingga aerosol dalam kondisi tertentu. Semprotan gas air mata memicu droplet itu keluar.

"Kalaupun pakai masker, dia tidak akan kuat pakai masker. Akibatnya, masker tidak dipakai lagi," kata Dicky.

Demonstran datang ke lokasi demo secara bersama-sama, naik bus, truk, atau KRL. Demonstran selalu berada dalam situasi yang padat. Jaga jarak tak mungkin diterapkan. Dia juga melihat pengumpulan demonstran yang ditangkap oleh oleh aparat keamanan.

"Penularan via droplet dan aerosol potensial terjadi. Itu terjadi benar di Melbourne saat demo Black Lives Matter, dan akhirnya menjadi klaster tersendiri. Melbourne harus lockdown tak berapa lama setelah itu," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2