Kritik UU Cipta Kerja, Amien Rais Sebut Freeportisasi dan Kutip Al-Qur'an

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 12:38 WIB
Amien Rais (Screenshot YouTube Amien Rais Official)
Amien Rais (Screenshot YouTube Amien Rais Official)
Jakarta -

Politikus senior Amien Rais mengomentari omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja. Amien menyinggung bahwa UU itu bakal menjadi 'Freeportisasi'.

"Saya akan mengangkat satu masalah yang tidak kalah penting, yaitu akan terjadi Freeportisasi di semua bidang. Seluruh pemodal asing yang diharapkan berbondong-bondong datang ke Indonesia akhirnya akan memeras Indonesia. Freeport McMoran sudah lama bercokol di Papua, dan bisa berbuat apa saja seperti negara dalam negara. Dari rezim Soeharto sampai rezim Jokowi, penghancur lingkungan, penipuan pajak, dan pelanggaran hal tidak pernah disentuh oleh pemerintah Jakarta," kata Amien Rais dalam akun YouTube-nya seperti dilihat detikcom, Jumat (9/10/2020).

Amien Rais menyinggung soal 35 investor asing yang meminta pemerintah tidak mengesahkan omnibus law UU Cipta Kerja. Sorotan utamanya adalah soal potensi kerusakan lingkungan.

"Sebagian investor global bernurani berteriak keras bahwa undang-undang bahaya itu, sesungguhnya tidak diperlukan. Mengapa? Karena akan berdampak pada kehancuran lingkungan atau ecocida. Menghancurkan dan membunuh lingkungan hidup. Reuters memberitakan ada 35 investor asing yang mengingatkan Indonesia, jangan nekat mengesahkan undang-undang yang diprakarsai Presiden Jokowi," katanya.

"Mereka saja, orang asing, mengingatkan jangan sampai biodiversitas hutan-hutan Indonesia lenyap gara-gara amdal akan diterapkan secara selektif. Artinya, perlindungan ekologi bukan sesuatu yang penting lagi," ucapnya.

Amien menyebut Freeport telah merusak lingkungan tempat dia menambang di Tembagapura, Mimika, Papua. Sehingga, menurut Amien, beberapa negara mencabut sahamnya tersebut.

"Nah, berkaca pada apa yang terjadi di Freeport McMoran, otoritatif dana pensiun di Swedia, Norwegia, dan New Zealand menarik saham mereka dari Freeport. Karena apa? Karena tidak tahan melihat penghancuran sistematik dan permanen oleh Freeport di Papua, danau dan sungai besar di lingkungan tambang Freeport telah mati," kata Amien.

Selanjutnya
Halaman
1 2