Ini Makna Spesial Benda Purbakala di Danau Sentani, Akan Diteliti Kembali

Idham Kholid - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 13:00 WIB
Benda-benda purbakala tampak jelas di Danau Sentani saat surut.
Benda-benda purbakala tampak jelas di Danau Sentani saat surut. (Dok. Badan Arkeologi Papua)
Jakarta -

Badan Arkeologi Papua mengatakan akan meneliti lebih lanjut benda-benda peninggalan zaman megalitikum di Danau Sentani. Namun saat ini peralatan masih terbatas.

"Tentu kita akan melakukan penelitian lanjutan, terutama arkeologi bawah air karena kita kan sangat terbatas peralatan, kemudian terutama alat menyelam kemudian SDM," kata peneliti Badan Arkeologi Papua, Hari Suroto, saat dihubungi detikcom, Rabu (7/10/2020).

Selain soal peralatan terbatas, kendala lainnya ialah tidak ada peneliti yang memiliki sertifikasi menyelam. Karena itu, penelitian ini harus direncanakan dengan matang.

"SDM itu kan dibutuhkan peneliti yang punya sertifikasi menyelam, kita kan nggak punya. Apalagi kan kalau mengambil suatu data itu kan harus ilmiah, tidak boleh sembarang, dengan metode. Tentu harus kita rencanakan baik-baik, mungkin direncanakan anggarannya, teknisnya. Mungkin tahun depan," ujarnya.

Benda-benda purbakala itu saat ini terlihat jelas karena kondisi air sedang surut. Hari menjelaskan Danau Sentani sendiri terdiri dari tiga bagian dan terlihat seperti huruf S jika dari atas.

Kemarau telah membuat air di Danau Sentani, Papua surut. Hal ini justru memunculkan benda-benda purbakala di sana.Kemarau telah membuat air di Danau Sentani, Papua surut. Hal ini justru memunculkan benda-benda purbakala di sana. (HO-Hari Suroto/Antara)

"Danau Sentani kan terbagi, itu kan kawasan, sebenarnya kalau dari atas, kalau kita mau mendarat di Bandara Sentani itu kan yang pertama kali dilihat Danau Sentani. Jadi itu seperti huruf S. Itu Danau Sentani karena sangat luas. Itu terbagi 3, ada Sentani Timur, Sentani Tengah, Sentani Barat," ujarnya.

Hujan jarang turun sejak Maret 2020. Pasokan air Danau Sentani, katanya, berasal dari Pegunungan Siklop.

"Jadi kalau pasokan air berkurang tentu volumenya berkurang. Terus volume pasang surutnya air danau kan berbeda dengan pasang surutnya air laut. Kalau air laut kan ketika surut, airnya akan kembali pasang lagi. Kalau danau tidak, karena dia terpengaruh dari pasokan air tawar. Jadi ketika pasokan airnya berkurang ya volumenya turun," ujarnya.