Ini Jejak Kasus Penipuan yang Jerat Eks Pembaca Berita Dalton Tanonaka

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 12:43 WIB
Eks pembaca berita di Metro TV, Dalton Ichiro (rompi merah) ditangkap Kejagung, Rabu (7/10/2020).
Eks pembaca berita Dalton Ichiro Tanonaka (rompi merah) ditangkap Kejagung. (Wilda Hayatun Nufus/detikcom)
Jakarta -

Dalton Ichiro Tanonaka ditangkap jajaran kejaksaan. Dalton, yang disebut sebagai direktur di PT Melia Media International, ternyata berstatus sebagai terpidana kasus penipuan yang selama ini buron.

Kejaksaan Agung (Kejagung) menangkap Dalton pada pukul 00.40 WIB di salah satu apartemen di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Hari Setiyono selaku Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung mengatakan awalnya mantan pembaca berita di Metro TV itu menjalankan usaha di PT Melia Media International, yang bergerak di bidang pembuatan program khusus tentang Indonesia bagi rumah produksi maupun televisi.

"Kasus posisi perkara ini adalah yang bersangkutan adalah Direktur Utama PT Melia Media International, yang bergerak di bidang usaha pembuatan program khusus tentang Indonesia bagi rumah produksi atau televisi," kata Hari dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Rabu (7/10/2020).

Lantas, Dalton disebut bekerja sama dengan seorang bernama Harjani Prem Ramchand selaku pemilik PT Vaces Prabu Investments. Dalton mempengaruhi Harjani untuk berinvestasi di perusahaannya. Peristiwa ini disebut terjadi pada 2014.

"Ketika menjalankan usahanya tersebut, yang bersangkutan berusaha mempengaruhi seseorang, yaitu saksi, dalam hal ini adalah saksi korban atas nama Harjani Prem Ramchand, dengan menjanjikan keuntungan apabila yang bersangkutan melakukan investasi di tempat terpidana," ujar Hari.

Singkat cerita, Harjani berencana menanamkan modal USD 1 juta untuk Dalton. Awalnya Harjani menyetorkan 25 persen dari USD 1 juta. Namun saat Harjani ingin melihat capaian perusahaan, Dalton memintanya menyetorkan investasi lagi sebesar 25 persen sehingga total yang diberikan adalah USD 500 ribu.

"Keuangan yang diberikan adalah 25 persen, kemudian, tergerak hatinya saksi korban ini karena iming-iming yang pertama adalah keuntungan 25 persen, kedua perusahaan ini dikatakan sudah untung, sehingga tertarik untuk menanamkan modalnya sebesar USD 1 juta. Namun korban ingin mengetahui tentang perusahaan itu, ingin tahu tentang usaha perusahaan itu, lagi-lagi terpidana menjanjikan boleh melihat prospek perusahaan itu dengan syarat harus menyetorkan separuh dari investasi itu," kata Hari.

Tiba-tiba perusahaan Dalton malah merugi, sehingga Harjani merasa tertipu dan melaporkan hal ini. Kasus pun diproses hingga disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalton dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan dengan pidana penjara 2 tahun 6 bulan.

Namun Dalton melakukan upaya banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Dalton lepas dari segala tuntutan di tingkat banding. Jaksa yang tidak tinggal diam lantas mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Apa kata MA?

"Kasasinya diterima oleh MA sehingga terpidana dijatuhi pidana selama 3 tahun dan telah mempunyai kekuatan hukum tetap," kata Hari.

Hari menyebut Dalton saat itu tidak kooperatif dan melarikan diri sehingga ditetapkan sebagai buron. Setelah dicari selama 2 tahun, akhirnya Dalton ditangkap pada malam tadi dan kini telah dieksekusi ke Lapas Kelas IIA Salemba.

(dhn/dhn)