Antisipasi Massa Demo, Polisi Rekayasa Lalin Situasional di Sekitar DPR

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 07 Okt 2020 10:18 WIB
Unjuk rasa buruh ke gedung DPR hingga siang ini belum terjadi. Begini kondisi di sekitar gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (5/10).
Ilustrasi Lalu Lintas di Sekitar DPR (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menyiapkan rekayasa lalu lintas di sekitar DPR untuk mengantisipasi massa demo. Rekayasa lalu lintas diberlakukan secara situasional.

"(Rekayasa lali) situasional aja, tapi kayaknya enggak," kata Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo saat dihubungi, Rabu (7/10/2020).

Sambodo mengatakan, hingga pagi ini, belum ada massa buruh yang bergerak menuju Gedung DPR. Meski begitu, pihak kepolisian sudah menyiapkan rekayasa lalu lintas secara situasional.

"Kalau ada massa buruh aja baru kita lakukan, tapi sampai pagi ini belum," ucapnya.

Sambodo mengimbau massa buruh agar tidak melakukan aksi di Gedung DPR.

"Jadi kita imbau supaya buruh lakukan aksinya di lokasi masing-masing," ujarnya.

Berikut ini rekayasa lalu lintas yang disiapkan pihak kepolisian:

- Arus lalu lintas dari Jl Palmerah Timur arah Jl Gelora diluruskan ke Jl Tentara Pelajar

- Arus lalu lintas dari Jl Gerbang Pemuda arah Jl Gelora Dibelok ke kiri Jl Asia Afrika

- Arus lalu lintas dari Tol Dalam Kota yang akan keluar di off ramp Pulo Dua diluruskan ke arah Tol Tomang

- Arus lalu lintas dari Jl Gerbang Pemuda arah Jl Gatot Subroto diputar balik ke Doorbrak depan pintu 10 mengarah Jl Gerbang Pemuda kembali.

Sebelumnya diberitakan, Serikat Pekerja sepakat untuk melakukan aksi mogok nasional sebagai bentuk penolakan terhadap omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja. Mogok nasional rencananya dilakukan selama tiga hari berturut-turut, mulai 6 Oktober dan diakhiri pada 8 Oktober 2020 saat sidang paripurna.

Mogok nasional ini akan diikuti 2 juta buruh yang sebelumnya direncanakan 5 juta. Sebanyak 2 juta buruh yang mengikuti nasional tersebut meliputi sektor industri, seperti kimia, energi, pertambangan, tekstil, garmen, sepatu, otomotif dan komponen, elektronik dan komponen, industri besi dan baja, farmasi dan kesehatan, percetakan dan penerbitan, industri pariwisata, industri semen, telekomunikasi, pekerja transportasi, pekerja pelabuhan, logistik, serta perbankan.

(maa/mea)