Anggap Tes PCR Mahal, Epidemiolog Ini Sarankan Rapid Test Antigen

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 06 Okt 2020 13:26 WIB
150 Pekerja media menjalani tes swab di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Rabu (12/8/2020). Tes ini guna memutus menyebaran virus Corona.
Ilustrasi swab test COVID-19 (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mematok batas harga maksimal untuk swab test PCR mandiri setinggi Rp 900 ribu. Harga itu dinilai masih terlalu mahal untuk banyak orang. Pemerintah disarankan memakai rapid test antigen untuk menggenjot jumlah tes COVID-19 per hari.

"Tentu ini akan memudahkan pasien yang harus dites usap (swab test). Namun ini masih berat untuk Indonesia," kata epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, kepada detikcom, Selasa (6/10/2020).

Supaya tak ada penyedia layanan tes PCR yang nakal, perlu pemantauan harga tes PCR di lapangan. Namun, di sisi lain, jumlah tes COVID-19 di Indonesia juga perlu digenjot tak hanya lewat peningkatan tes swab PCR saja, tapi juga lewat tes cepat (rapid test).

"WHO sudah memberi izin emergency untuk penggunaan rapid test antigen agar semua negara yang kekurangan dana dan kapasitas testing dengan PCR bisa menggunakan rapid test antigen," kata Dicky.

Rapid test antigen lain dengan rapid test antibodi seperti yang selama ini banyak diterapkan di Indonesia. Rapid test antibodi dinilai tidak akurat, tapi rapid test antigen adalah hal yang berbeda.

"Rapid test antigen bisa mendeteksi apakah seseorang ini sedang terinfeksi Covid atau tidak," kata Dicky.

Epidemiolog, Dicky Budiman. (Dok pribadi)Epidemiolog Dicky Budiman (Foto: dok. pribadi)