Komisi III DPR Minta Propam Turun Urus Kasat Resign Gegara Dimaki Bencong

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 17:22 WIB
Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo
Kasat Sabhara Polres Blitar yang mengajukan resign. (Foto: tim detikcom)
Jakarta -

Kabar mengejutkan datang dari Polres Blitar. Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo mengajukan resign dari kepolisian, karena konflik dengan Kapolres Blitar. Komisi III DPR menyorot masalah tersebut.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni meminta Propam Polri turun tangan untuk menginvestigasi kasus itu. Dia menilai harus ada pihak yang ditindak.

"Propam wajib turun investigasi ke Polres tersebut, bilamana Kapolres melakukan kesewenang-wenangan wajib ditindak tegas," kata Sahroni kepada wartawan pada Kamis (1/10/2020).

Menurut elite dari Partai NasDem ini, seorang atasan memang wajar marah ke bawahannya apabila terjadi kesalahan fatal. Namun, ia juga menyarankan agar seorang pimpinan juga dapat bersikap bijak.

"Boleh memarahi anggota bilamana yang bersangkutan punya kesalahan fatal. Layaknya pimpinan harus bijak sama anggotanya agar hubungan pimpinan dan anak buah terjalin dengan baik," imbuhnya.

Dihubungi secara terpisah, Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PPP Arsul Sani meminta Propam dan Irwasum Polri bertindak atas kejadian itu. Ia mendesak agar persoalan antara Kasat Sabhara dan Kapolres di Polres Blitar diperiksa.

"Komisi III meminta agar Irwasum atau Propam memeriksa persoalan yang terjadi antara Kasat Sabhara Polres Blitar dengan Kapolres-nya," ucap Arsul.

Menurut Arsul, Propam dan Irwasum Polri juga perlu memeriksa klaim terhadap Kapolres Polres Blitar. Khususnya terkait klaim bahwa Kapolres Blitar sering menggunakan kata kasar saat marah ke bawahannya.

"Salah satu yang harus diperiksa oleh Propam atau Irwasum ya klaim bahwa Kapolres yang bersangkutan sering maki-maki bawahannya itu dengan kata-kata yang tidak pantas," ujarnya.

Lebih lanjut, Arsul menilai sikap marah terhadap bawahan bukan hal tabu dalam jajaran Kepolisian. Namun, kemarahan tersebut harus berada dalam batas wajar.

"Di Polri sebenarnya atasan memarahi bawahan bukan hal yang tabu, namun tentu semuanya harus terukur dan dengan ekspresi yang masih dalam batas-batas kewajaran," ujar Arsul.

Diketahui, Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo mengundurkan diri (resign) sebagai polisi. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk kekecewaan kepada Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani Prasetyo.

Agus datang dengan membawa surat pengunduran diri yang ditujukan kepada Kapolda Jatim dengan tembusan ke Kapolri.

"Jadi saya datang ke Polda Jatim saya sengaja mengirim surat pengunduran diri saya sebagai anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia. Jadi hari ini saya resmi mengundurkan diri kepada Bapak Kapolda, nanti tembusannya Bapak Kapolri dan lain-lain. Hari ini sudah saya ajukan tinggal tunggu proses lebih lanjut," kata Agus saat ditemui di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Kamis (1/10).

Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani sudah menanggapi isu ini. Fanani menegaskan bahwa 'makian' itu merupakan bentuk teguran pimpinan kepada anggotanya.

Fanani menjelaskan peristiwa itu bermula ketika ia menegur salah satu anggota Satuan Sabhara Polres Blitar yang berambut panjang. Fanani kemudian meminta AKP Agus Hendro menegur anak buahnya tersebut.

"Jadi gini, anak buahnya itu kan rambutnya panjang, ya saya tegur dong, karena dia kan Sabhara tidak boleh rambut panjang. Kebetulan kan waktu itu dia operasi yustisi, operasi yustisi kan bisa, saya dengan kasat Sabhara kan bisa (berkomunikasi)," jelas Fanani saat dihubungi detikcom, Kamis (1/10).

Peristiwa itu menurutnya terjadi pada Sabtu (19/9) lalu. Fanani kemudian memanggil Agus Hendro melalui handy talkie terkait anggota Sabhara yang berambut gondrong itu. Fanani mengakui saat itu ia berucap 'bencong'.

"Panggillah Kasat Sabhara melalui HT 'kenapa kok anggotanya tidak ditegur rambutnya panjang?'. 'Jangan kita itu nggak berani negur anggota kita, jangan kayak bencong', saya bilang kayak gitu, kita nggak berani negur anak buahnya, udah itu aja," paparnya.

(hel/tor)