Panas Dingin Hubungan Moeldoko-Gatot Nurmantyo

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 16:59 WIB
Gatot Nurmantyo-Moeldoko, gatot nurmantyo moeldoko
Foto: Gatot Nurmantyo-Moeldoko. (Dok detikcom).
Jakarta -

Hubungan Moeldoko dan Gatot Nurmantyo tengah memanas. Kepala Staf Presiden di Kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu menyindir Gatot yang saat ini memposisikan diri sebagai oposisi pemerintah. Seperti apa hubungan dua jenderal purnawirawan itu?

Moeldoko dan Gatot Nurmantyo terpaut satu angkatan sebagai perwira TNI AD. Moeldoko merupakan lulusan Akmil 1981, sementara Gatot Nurmantyo adalah lulusan Akmil 1982.

Gatot menggantikan Moeldoko sebagai Panglima TNI pada 8 Juli 2015. Atas pilihan Presiden Jokowi, Gatot menggantikan Moeldoko yang memasuki masa pensiun. Soal pilihan Gatot sebagai gantinya, Moeldoko tidak memberikan pro maupun kontra.

"Setiap orang memiliki kemampuan, setiap orang memiliki kelebihan, ya," ujar Moeldoko saat ditanya mengenai dipilihnya Gatot sebagai Panglima TNI pengganti dirinya, pada 12 Juni 2015.

Moeldoko juga enggan menjawab saat ditanya syarat-syarat apa yang belum dipenuhi Gatot untuk menjadi Panglima TNI. "Kok tanya saya lho, nantikan saat fit and proper test ketahuan semuanya. Tunggu sajalah," sebutnya.

Kemudian, Gatot dilantik menggantikan Moeldoko pada 8 Juli 2015, setelah mendapat persetujuan dari DPR. Moeldoko turut hadir dalam pelantikan Gatot di Istana Negara oleh Presiden Jokowi.

Moeldoko pun memberikan pesan kepada Gatot yang menjadi penggantinya. Ia berharap Gatot mampu lebih meningkatkan sumber daya manusia serta profesionalitas di tubuh TNI. Penguatan intelijen TNI juga diharapkan tetap dilakukan.

"Ya diharapkan bisa lebih meningkatkan lagi sumber daya manusia serta profesionalitas pada tubuh TNI sendiri. Serta penguatan intelijen TNI diharapkan juga tetap dilakukan," jelas Moeldoko, usai pelantikan Gatot sebagai Panglima TNI.

Serah terima jabatan antara Moeldoko dan Gatot dilakukan pada 14 Juli 2020 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Dalam kesempatan itu, Gatot menyatakan dirinya telah tiga kali menerima penyerahan jabatan dari Moeldoko.

"Ini tradisi saya dengan Pak Moeldoko, ini sertijab yang ketiga saya (dengan Moeldoko)," ungkap Gatot.

Sebelum menerima jabatan sebagai panglima TNI, Gatot pernah menerima jabatan dari Moeldoko sebagai sespri Wakasad pada tahun 1998. Selanjutnya Gatot dan Moeldoko melakukan sertijab sebagai Komandan Brigif-1/Jaya Sakti pada tahun 1999.

Jenderal Gatot Nurmantyo resmi dilantik menjadi Panglima TNI di Istana Negara, Rabu (8/7/2015). Jenderal Gatot Nurmantyo dilantik oleh Presiden Jokowi di Istana Negara. Gatot menggantikan Panglima Jendral TNI Moeldoko. Gatot melakukan salam komando dengan Moeldoko. Agung Pambudhy/detikcom.Gatot Nurmantyo-Moeldoko. (Foto: Agung Pambudhy/detikcom).

Untuk itu Gatot menyatakan apa yang diamanatkan Moeldoko untuk meneruskan visi dan misinya sebagai panglima TNI, dianggapnya sebagai tugas. Terutama mengenai rencana strategis (resntra) kedua yang telah disusun saat Moeldoko masih menjabat sebagai panglima TNI.

"Pertama bahwa TNI kuat, solid karena dibangun oleh pemimpin terdahulu, landasan yang terbentuk. Ini saya anggap sebagai tugas," kata Gatot.

Meski begitu, bukan berarti Gatot hanya akan menerima mentah-mentah apa yang telah ada. Ia akan mengevaluasi terlebih dahulu apa yang menjadi prioritas menurutnya.

"Mengevaluasi apa hal-hal prioritas Jenderal Moeldoko yang dihadapkan ke perkembangan ke depan," tuturnya.

Usai pensiun, Moeldoko kemudian sempat aktif di politik bersama Partai Hanura. Sementara Gatot melanjutkan tugasnya sebagai Panglima TNI.

Namun kemudian, hubungan Gatot dengan Presiden Jokowi memanas di tahun 2017 lantaran Gatot dinilai bermain politik di saat dirinya masih menjabat sebagai Panglima TNI. Ini terjadi jelang Pilpres 2019.

Gatot kemudian diganti dari posisinya sebagai Panglima TNI, beberapa bulan sebelum masa pensiunnya.

Di saat hubungan Gatot dan Jokowi memanas, hubungan Jokowi dan Moeldoko justru menghangat. Moeldoko diangkat sebagai Kepala Staf Kepresidenan pada awal Januari 2018.

Gatot sempat disebut-sebut akan maju di Pilpres 2019, namun sayangnya tidak berhasil. Tak ada partai yang mengusung Gatot saat itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2