Menengok Panasnya Detik-detik Jelang Pencopotan Gatot dari Panglima TNI

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 24 Sep 2020 13:45 WIB
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengunjungi Markas Divisi Infanteri I Kostrad, Cilodong, Depok, Kamis (712). Gatot berpamitan kepada para prajurit Kostrad.
Foto: Gatot Nurmantyo saat masih Panglima TNI. (Pool/Penkostrad).
Jakarta -

Gatot Nurmantyo mengaitkan pencopotannya sebagai Panglima TNI dengan arahannya untuk nonton bareng film 'G30S/PKI'. Saat itu, pencopotan Gatot dari pucuk pimpinan TNI didahului sejumlah peristiwa yang menghangatkan situasi nasional.

Pencopotan Gatot sebagai Panglima TNI dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 8 Desember 2017. Gatot pensiun pada 1 April 2018. Ia digantikan oleh Marsekal Hadi Tjahjanto yang hingga saat ini masih menjabat sebagai Panglima TNI.

Pencopotan Gatot didahului sejumlah peristiwa politik yang jadi perhatian nasional. Gatot terlibat di dalam sejumlah peristiwa politik itu.

Dimulai dari aksi demo 4 November (411) dan 2 Desember alias 212. Aksi-aksi ini menuntut pemerintah bertindak terkait kasus penistaan agama Basuki T Purnama (Ahok).

Gatot sempat menemui massa 411 ketika Presiden Jokowi tidak hadir. Gatot mengenakan kopiah putih saat itu. Kala itu muncul tafsiran Gatot dekat dengan massa ormas Islam. Kemudian Gatot juga ada pada Aksi 212. Hanya, saat itu Presiden Jokowi juga hadir di tengah-tengah massa aksi. Presiden Jokowi dan jajarannya juga ikut salat Jumat bersama massa di Monas.

Dalam catatan detikcom, Gatot juga pernah membuat kontroversi ketika dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi menyatakan diri tersinggung bila umat Islam dituding akan melakukan makar. "Kalau ada demo, jangan dianggap makar. Pasti demo akan dilakukan dengan kedewasaan masyarakat salurkan aspirasinya, dan itu sah-sah saja," ucap Gatot, 4 Mei 2017.

Selang dua pekan kemudian, Jenderal purnawirawan tersebut kembali membuat sejumlah pihak tercengang. Saat tampil dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar di Balikpapan, dia membacakan puisi 'Tapi Bukan Kami Punya'. Puisi karya konsultan politik Denny JA itu berisi kritik terhadap pemerintah.

"Kalau Panglima bermaksud dengan puisi ini untuk kritik pemerintahan Jokowi, salah alamat, deh. Jangan-jangan ibarat menepuk air di dulang, tepercik muka sendiri," ujar anggota Komisi I DPR Andreas Hugo Pareira dari Fraksi PDI Perjuangan, 23 Mei 2017.

Kemudian, Gatot Nurmantyo kembali dituding berpolitik setelah mengeluarkan pernyataan soal adanya pembelian 5.000 pucuk senjata di luar instansi TNI. Pernyataan Gatot banyak menuai kritik. Namun ia menolak tudingan dirinya tengah berpolitik.

Kemudian Gatot juga memerintahkan jajaran TNI untuk menggelar nonton bareng film G30S/PKI pada 2017. Rencana TNI menggelar acara nonton bareng film G30S/PKI atas perintah Gatot saat itu memang menjadi polemik. Ada yang menilai film itu tak pantas ditonton lagi. Namun ada juga yang mendukung rencana TNI sebagai upaya mengingatkan sejarah kelam bangsa ini.

"Iya itu memang perintah saya, mau apa? Yang bisa melarang saya hanya pemerintah," kata Gatot saat itu.

Menurut Gatot, bahkan Presiden Sukarno sendiri pernah memberi pesan untuk tidak melupakan sejarah. "Sejarah itu jangan mendiskreditkan. Ini hanya mengingatkan pada anak bangsa, jangan sampai peristiwa itu terulang. Karena menyakitkan bagi semua pihak. Dan korbannya sangat banyak sekali," ucapnya.

Gatot menyatakan Mendagri sudah mengizinkan dia memerintahkan seluruh anggotanya menonton film garapan era Orde Baru tersebut. Saat ditanya mengenai materi film itu masih menjadi polemik, Gatot mengatakan menonton film tersebut merupakan upaya meluruskan sejarah.

"Biarin aja, saya nggak mau berpolemik. Ini juga upaya meluruskan sejarah. Saya hanya ingin menunjukkan fakta yang terjadi saat itu. Karena anak-anak saya, prajurit saya, masih banyak yang tidak tahu," jelasnya.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan apresiasi berupa penghargaan kepada sejumlah prajurit TNI yang berhasil bebaskan sandera di Papua.Jenderal Purn Gatot Nurmantyo saat masih menjadi Panglima TNI. (Foto: Dok. Puspen TNI).

Tak berhenti di situ, saat DPR sedang melakukan proses uji kelayakan bagi Marsekal Hadi yang ditunjuk Jokowi untuk menjadi Panglima TNI baru, Gatot melakukan perombakan di TNI.

Ada 84 perwira yang dimutasi Gatot, jelang pencopotannya sebagai Panglima TNI. Beberapa pihak menilai Gatot tengah menaruh 'orang-orangnya' di posisi strategis di tubuh TNI. Rotasi 85 perwira TNI yang dilakukan Gatot tertuang dalam Keputusan Panglima Tentara Nasional Indonesia Nomor Kep/982/XII/2017 tertanggal 4 Desember 2017.

Mutasi jabatan 84 Perwira Tinggi (Pati) TNI terdiri dari 46 Pati jajaran TNI Angkatan Darat, 28 Pati jajaran TNI Angkatan Laut, dan 11 Pati jajaran TNI Angkatan Udara. Salah satu yang dimutasi adalah Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi menjadi Perwira Tinggi Mabes TNI AD.

Edy mengajukan pensiun dini untuk maju ke Pilgub Sumatera Utara 2018. Jabatan Edy saat itu diisi Mayjen TNI Sudirman, yang semula menjabat ASops KSAD.

Keputusan Gatot itu mendapat peringatan dari Anggota Komisi I DPR Fraksi PDIP TB Hasanuddin. Komisi I bermitra dengan TNI, dan kala itu sedang menggelar uji kelayakan bagi Marsekal Hadi yang ditunjuk Jokowi untuk menjadi Panglima TNI.

"Mutasi para perwira tinggi sebaiknya dilakukan oleh panglima baru agar suasana kondusif akan lebih tercipta," ujar TB Hasanuddin yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR.

Keputusan Gatot itu kemudian dianulir oleh Marsekal Hadi Tjahjanto begitu ia dilantik sebagai Panglima TNI. Marsekal Hadi membatalkan sebagian keputusan Gatot soal pemberhentian dan pengangkatan 84 perwira tinggi (pati) TNI.

Pembatalan tersebut tertuang dalam Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/982.a/XII/2017 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan TNI yang dikeluarkan dan ditandatangani Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pada Selasa, 19 Desember 2017.

Lihat juga video 'Gatot Nurmantyo Klaim Mengetahui Gerakan PKI Sejak 2008':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2