Ragam Kampanye di Pilwalkot Makassar: Tatap Muka hingga Pakai TikTok

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 21:49 WIB
Rapat pleno pengundian nomor urut pasangan calon Pilwalkot Makassar.
Rapat pleno pengundian nomor urut pasangan calon Pilwalkot Makassar. (Taufik/detikcom)
Makassar -

Pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun ini jadi tantangan bagi para kandidat karena digelar saat masa pandemi Corona (COVID-19). Para pasangan calon (paslon) dituntut untuk beradu kreatif di masa kampanye untuk meraup suara.

Pemilihan Wali Kota (pilwalkot) Makassar diikuti empat paslon. Tim sukses paslon mengemukakan beragam strategi kampanye agar tetap taat protokol kesehatan.

Juru bicara milenial dari paslon Munafri Arifuddin-Rahman Bando, Gemintang K Mallarangeng, mengatakan soal tingginya suara yang bisa disasar ke anak muda lewat berbagai platform di media sosial (medsos).

"Jadi kita menyadari demografi pemilih paling besar di Makassar itu paling besar adalah usia 17-39 tahun atau disebut milenial, dan juga menyadari kelompok ini paling apatis dengan politik," kata perempuan yang biasa disapa Titang ini saat berbincang dengan detikcom, Rabu (30/9/2020).

Memasuki kalangan milenial yang dinilai apatis terhadap politik ini, dianggap Titang sebagai sebuah tantangan. Oleh karena itu, timnya menyediakan bentuk kampanye menarik dan disukai anak muda di media sosial. Apalagi, kampanye konvensional yang berbau politik, seperti tatap muka tidak lagi dilirik oleh anak-anak muda saat ini.

"Pasar pemilih anak muda kita harus update dengan anak muda, kita harus familiar dengan media yang mereka gunakan. Makanya kita menggunakan vlog, TikTok, Instagram, dan sebagainya. Semua platform media yang digunakan oleh kelompok milenial," sebut putri dari Andi Mallarangeng ini.

Titang menyiapkan strategi agar kampanye via medsos ini tepat sasaran dan dilirik oleh anak muda. Titang pun merekrut tim kreatif yang semua semuanya anak muda Makassar yang mampu memahami selera orang-orang seusianya.

"Jadi apa yang anak muda suka. Jadi setiap platform kita cocokkan media. Misalnya vlog kita tunjukkan humor, bahwa politik tidak serius banget. Politik juga bisa seru dan menyenangkan," ungkapnya.

"Semuanya kita masukkan dan cocokkan dengan karakter platform masing-masing," imbuhnya.

Sementara itu, juru bicara Ramdhan Pomanto-Fatmawati, Indira Mulyasari mengatakan kampanye secara konvensional dianggap lebih ampuh meraup suara di masyarakat. Meski begitu, mereka tidak menganggap remeh kampanye melalui medsos, apalagi di masa pandemi saat ini. Indah bahkan menyebut tim media dibagi ke dalam 3 tim kecil yang mengurusi kampanye di medsos.

"Medsos benar-benar dimasifkan. Kemudian medsos masing-masing kandidat itu harus mereka jalankan, karena warga masyarakat mau melihat sisi lain dari kandidat. Makanya tim media meminta kedua kandidat menggunakan akun pribadi medsos mereka," ujar Indira.

Selama masa pandemi ini, frekuensi tatap muda dengan para pemilih relatif kecil dan terbatas sesuai dengan aturan dari KPU. Namun dari segi efektivitas untuk meraup suara, medsos dianggap hanya bisa dijangkau oleh kalangan tertentu dan sebagian pengguna medsos dianggap sebagai pemilih yang cerdas.

"Sementara di Makassar, banyak sekali mereka yang belum menggunakan medsos, belum terbiasa dengan medsos apalagi untuk kampanye. Kita masih perlu cara-cara konvensional untuk mengambil suara yang tidak terbiasa dengan medsos," terangnya.

Indira juga mengakui kreativitas pada konten untuk berkampanye sangatlah penting untuk menarik perhatian pemilih. Misalnya, sasaran suara milenial juga harus memuat konten yang berbau usia anak muda. Konten ini juga disebut digarap oleh anak-anak muda.

"Euforia berbeda di masa pandemi dan tidak di masa pandemi. Ini sangat terbatas dan dibatasi," kata dia.

(fiq/jbr)