Soal Potensi Tsunami, Kemenristek Perhatikan Sesar Aktif di Selatan Jawa

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 18:32 WIB
BPPT akan memperbaiki 3 buoy tsunami untuk dipasang di kompleks Gunung Anak Krakatau
Ilustrasi buoy. (Foto: Dok. BPPT)
Jakarta -

Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) terus menyiapkan langkah-langkah untuk mewaspadai potensi tsunami 20 meter di selatan Pulau Jawa. Kemenristek melakukan sejumlah riset, salah satunya perihal sistem peringatan dini (early warning system) tsunami.

"Salah satu yang menjadi perhatian kami adalah sesar-sesar yang diperkirakan masih aktif, yang masih berpotensi menimbulkan gempa di Pulau Jawa itu sendiri, di bagian barat tengah maupun timur (di kawasan selatan Jawa)," kata Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro dalam diskusi virtual, Rabu (30/9/2020).

"Jadi itu fokus untuk penelitian, plus penelitian mengenai daerah lainnya yang di luar Jawa yang juga punya potensi gempa tsunami yang perlu diperhatikan," jelasnya.

Lalu dalam hal mitigasi, Kemenristek melakukan pengembangan dalam early warning system tsunami. BPPT di bawah Kemenristek sudah membuat dan menyebar buoy dan sistem kabel sebagai alat deteksi tsunami. Alat itu sudah disebar di beberapa titik di selatan Pulau Jawa.

"Nanti akan dipasang di berbagai tempat di Indonesia yang diperkirakan punya potensi tsunami yang perlu diidentifikasi lebih awal untuk early warning. Jadi peran kami lebih pada penelitian mengenai potensi gempanya dan mengembangkan early warning system," kata Bambang.

Dia menekankan lagi, terkait gempa, sampai saat ini belum bisa diprediksi. Untuk itu, pihaknya mengedepankan kesiapsiagaan baik dalam mitigasi bencana maupun pendekatan teknologi.

"Tapi tentunya tugas BNPB paling penting dan BMKG adalah mitigasi bencana dengan kesiapsiagaan. Bentuknya menyiapkan tsunami early system dalam bentuk buoy atau kabel di wilayah rawan tsunami sehingga bisa memberikan estimasi waktu, gap antara terjadinya gempa dan potensi tsunami," kata Bambang.

Untuk mencegah bencana berdampak besar, teknologi dikedepankan. Meski begitu, Indonesia belum setara dengan protokol yang diterapkan di Jepang, negara dengan kerawanan gempa yang tinggi. Riset masih perlu ditingkatkan dan disosialisasikan.

"Tentu kita harap masyarakat lebih mengerti suatu tujuan akademik, di mana ingin menciptakan knowledge, sehingga dengan knowledge yang lengkap kita tak cuek terharap potensi bencana sehingga kita tak negligence. Jadi kesadaran inilah yang bisa jadi senjata kita untuk berhadapan dengan bencana," kata Bambang.

(idn/idn)