Gelar Expo, Bupati Alor Siap Mundur Jika Ada Peserta Meninggal Kena COVID-19

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 17:58 WIB
Poster
Ilustrasi hidup di masa pandemi. (Edi Wahyono/detikcom)
Kupang -

Pemerintah Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), memastikan Expo Alor ke-14 dan Alor Karnaval ke-7 guna memberdayakan ekonomi masyarakat lokal di daerah itu di tengah pandemi COVID-19. Bupati Alor Amon Djobo mengatakan siap mundur jika ada yang kena COVID-19 dan meninggal.

Expo Alor dan Alor Karnaval dibuka mulai Senin (28/9) dan ditutup pada 3 Oktober. Amon Djobo mengatakan, walaupun pandemi COVID-19 masih ada, kondisi sosial-ekonomi dan pariwisata harus terus berkembang.

"Ya jangan karena ada COVID-19 lalu akhirnya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa yang berujung pada mandeknya perputaran ekonomi. Nanti masyarakat mau makan apa kalau ekonomi tidak jalan," kata Amon saat dihubungi dari Kupang, Selasa (30/9/2020) seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan, walaupun Expo Alor dan Alor Karnaval dijalankan, protokol kesehatan tetap diperhatikan selama proses acara itu berlangsung.

Amon menyebutkan delapan pintu masuk ke area karnaval sendiri dijaga ketat aparat keamanan baik polisi, tentara, maupun Satpol PP yang bertugas mengawasi siapa pun yang masuk harus gunakan masker.

"Kalau tidak ada masker, kemudian tidak mencuci tangan, ya akan dilarang masuk," tutur dia.

Lebih lanjut, ujar dia, kegiatan itu juga bertujuan memberdayakan masyarakat untuk tetap disiplin dalam melakukan protokol kesehatan COVID-19 selama adanya pandemi tersebut.

"Untuk itu, saya minta masyarakat Alor jangan takut berlebihan terhadap COVID-19. Jangan sampai dengan COVID-19 ini masyarakat tidur berkepanjangan yang berujung pada tidak ada yang beraktivitas untuk perputaran ekonomi. Masyarakat harus tetap melakukan aktivitas mereka untuk menopang kehidupan mereka, baik rumah tangga maupun juga ekonomi lokal harus berkembang," tambah dia.

Dia mengatakan akan bertanggung jawab penuh jika pelaksanaan Expo Alor dan Alor Karnaval menimbulkan adanya klaster COVID-19 baru.

"Saya pertaruhkan jabatan saya. Jika ada yang kena COVID-19 dan meninggal, saya akan berhenti dari jabatan saya. Tetapi kalau ada yang sakit, tentu pemerintah akan tangani semua. Masyarakat tidak perlu khawatir," katanya.

(idh/jbr)