Round-Up

Alat Rusak Jadi Alasan Helikopter Polda Terbang Rendah di Atas Massa

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 05:28 WIB
Helikopter Polda Sultra terbang rendah di atas massa aksi setahun tewasnya Randy
Helikopter terbang rendah saat bubarkan massa (Foto: dok. istimewa)
Kendari -

Helikopter milik Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) terbang rendah untuk membubarkan massa pekan lalu. Alat rusak pun diklaim menjadi alasan sang pilot menerbangkan helikopter di atas peserta aksi setahun tewasnya mahasiswa Universitas Halu Uleo (UHO) Randy dan Yusuf.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (26/9) lalu. Kala itu, massa yang terdiri dari mahasiswa berbagai universitas berunjuk rasa atas tewasnya Randy dan Yusuf yang tertembak polisi saat unjuk rasa di DPRD Sultra pada 26 September 2019 lalu.

Saat massa tengah menyampaikan orasinya di Mapolda Sultra, datang helikopter milik Polda Sultra dan terbang rendah di atas massa. Seketika sampah dan debu di dekat massa aksi berterbangan dan membuat jarak pandang menjadi minim. Massa pun kocar-kacir membubarkan diri.

Tak lama berselang, massa kembali datang. Helikopter yang sebelumnya telah meninggalkan lokasi pun datang lagi dan kembali terbang rendah di atas massa. Total ada 3 kali helikopter tersebut melakukan hal yang sama.

Tindakan sang pilot helikopter lantas berbuntut panjang. Sang pilot, kopilot dan 2 mekanik diperiksa Polda Sultra lantaran bertindak tanpa izin atasan.

Plh Kabid Humas Polda Sultra Kombes Laode Proyek mengungkapkan, berdasarkan pemeriksaan, aksi pilot itu diawali dari kegiatan pemberian imbauan lewat helikopter. Namun, saat hendak mengimbau kepada massa agar tidak ricuh, alat pengeras suara helikopter tersebut rusak.

"Terjadi kerusakan pada peralatan untuk memberikan imbauan. Suaranya tidak keluar. Kemudian coba lagi, tapi tidak bisa sehingga kembali ke markas di Polda," kata Laode saat dihubungi detikcom, Selasa (29/9/2020).

Laode juga menjelaskan, terbangnya helikopter tersebut memang rutin dalam rangka melakukan pantauan udara. Namun, dia menegaskan, manuver sang pilot terbang rendah di atas massa aksi tidak diketahui Kapolda Sultra.

"Terbangnya sejak Kamis itu diketahui pimpinan, hanya saja tindakan diskresi yang dilakukan saat itu (terbang rendah untuk memberikan imbauan) tidak dilaporkan ke kendali operasi, harusnya semua tindakan itu dilaporkan," katanya.

Polda Sultra pun akan menguji hasil pemeriksaan keempatnya. Apakah tindakan menerbangkan helikopter secara rendah itu sudah sesuai aturan atau tidak.

"Hasil akhirnya akan diuji apakah sesuai tindakan dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum atau tidak," ujar Laode.

(mae/lir)