Sudah 67 Positif Corona, Ponpes di Polman Diminta Pulangkan Santri Nonreaktif

Abdy Febriady - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 21:54 WIB
Kasus positif Corona di Ponpes di Kecamatan Campalagian, Polman, Sulbar, terus bertambah. Tercatat sebanyak 67 santri di ponpes ini terpapar virus Corona. (Abdy F/detikcom)
Kasus positif Corona di Ponpes di Kecamatan Campalagian, Polman, Sulbar, terus bertambah. Tercatat sebanyak 67 santri di ponpes ini terpapar virus Corona. (Abdy F/detikcom)
Polewali Mandar -

Kasus positif Corona di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Parappe, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), terus bertambah. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 67 santri di ponpes ini terpapar virus Corona.

Untuk mengantisipasi meluasnya penularan virus, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Polman menyarankan agar pengelola ponpes memulangkan santri yang dinyatakan nonreaktif.

"Gugus Tugas menyarankan ponpes supaya diadakan kembali swab. Setelah di-swab, yang nonreaktif dipulangkan dulu," kata Sekda Polman, Andi Bebas Manggazali, kepada wartawan, Senin (28/9/2020).

Menurut Bebas, dengan memulangkan santri yang dinyatakan nonreaktif, pengelola ponpes dan pemerintah setempat dapat lebih fokus dalam menangani santri yang reaktif. "Begitu dipulangkan yang nonreaktif, pertama dia bisa isolasi mandiri, beban ponpes tidak terlalu banyak, dan kita sebagai pemerintah bisa fokus terhadap yang reaktif," ujarnya.

Bebas mengungkapkan, pemerintah bertanggung jawab agar ponpes bisa aman dan kegiatan di dalamnya terbebas dari COVID-19. Selain itu, pemkab juga ingin publik yakin bahwa ponpes sudah tidak tertular dan aman untuk kembali melanjutkan aktivitas.

Terkait permintaan tersebut, Sekretaris Umum Ponpes Salafiyah Parappe Ustaz Suaib Jawas mengaku belum bisa memberikan keputusan. Kata dia, pihaknya masih menunggu hasil swab semua santri.

"Kalau untuk karantina mandiri atau isolasi mandiri, diakui dari segi fasilitas kami tidak mencukupi, dari segi tenaga juga kami tidak mampu. Tetapi belum ada kesepakatan anak yang positif akan dibawa ke mana, karena kami menunggu hasil keseluruhan (hasil swab semua santri yang reaktif)," ungkap Jawas setelah mengikuti rapat bersama pemerintah setempat dan Tim Gugus COVID-19 di Kantor Camat Campalagian.

Sementara itu, juru bicara Satgas COVID-19 Polman, H Haedar, menerangkan, saat ini pihaknya masih menunggu hasil swab ratusan santri yang belum keluar. Dia mengatakan, dari 355 santri yang di-swab, masih ada ratusan yang hasilnya belum keluar.

Dia berharap para santri yang telah dipastikan positif terkonfirmasi COVID-19 dan saat ini menjalani isolasi mandiri di ponpes bisa segera dibawa ke rumah sakit, untuk mendapat perawatan intensif. "Maunya yang ada sekarang, penanganannya harus di rumah sakit, supaya dia terawasi, terkendali, apakah dari segi kesehatan, asupan gizi, dan keseharian," kata Haedar.

Meluasnya penyebaran virus Corona di lingkungan Ponpes Salafiyah Parappe mulai membuat para orang tua santri cemas.

"Kami sangat waswas dengan keadaan saat sekarang ini, apalagi ibu di rumah, dia yang melahirkan, otomatis tingkat kecemasan luar biasa. Kami minta pemerintah cepat mengambil tindakan, apapun keputusannya kami ikut," kata salah seorang wali santri, Arman.

Untuk mengantisipasi penularan virus Corona ke lingkungan masyarakat, aparat desa bersama petugas keamanan melakukan penjagaan pada sejumlah akses masuk menuju kawasan ponpes yang saat ini melakukan lockdown lokal. Pengawasan terhadap warga yang hendak berkunjung ke ponpes dengan berbagai alasan diperketat.

(jbr/jbr)