Pimpinan KPK Silang Pendapat, PDIP Bicara Peran Kepemimpinan Firli Bahuri

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 19:19 WIB
Trimedya Pandjaitan (Rina-detikcom)
Trimedya Pandjaitan (Rina/detikcom)
Jakarta -

Anggota Komisi III dari F-PDIP, Trimedya Pandjaitan, berbicara peran Ketua KPK Firli Bahuri sebagai penengah dalam silang pendapat antara dua pimpinan KPK, Nawawi Pomolango dan Nurul Ghufron. Silang pendapat itu dinilai sebaiknya bisa diselesaikan secara internal.

"Secepatnya diselesaikan di internal pimpinan. Kita juga menginginkan walaupun ada dinamika di antara pimpinan, itu jangan keluar. Keluar itu harus solid, jangan kelihatan ada perbedaan pendapat. Di situlah Pak Firli yang harus berperan, sebagai ketua kan dia nakhoda," kata Trimedya kepada wartawan, Senin (28/9/2020).

"Iya (Firli sebagai penengah), namanya ketua kan harus merangkul semuanya," imbuhnya.

Menurut Trimedya, silang pendapat itu tidak lantas menggambarkan ada ketidakkompakan di antara para pimpinan KPK. Ia mengatakan semua orang bisa memiliki cara pandang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan.

"Kita sampai saat ini belum pernah mendengar bahwa 5 pimpinan ini nggak kompak. Justru 5 pimpinan ini yang kita dengar dan kita ketahui solid, di bawah pimpinan Pak Firli ini solid, dalam pengambilan keputusan mengenai kasus dan lain-lain," ujar Trimedya.

Sebelumnya, sejumlah pegawai KPK diketahui mundur dari lembaga antirasuah itu, salah satunya eks juru bicara KPK, Febri Diansyah. Pimpinan KPK Nurul Ghufron mengistilahkan KPK sebagai tempat pertempuran, sehingga dia lebih menghargai orang-orang yang masih bertahan di KPK. Ghufron menyebut KPK adalah candradimuka bagi para pejuang antikorupsi.

"Tapi kami sangat berbesar hati dan berbangga kepada mereka yang bertahan di dalam KPK bersama kami kini dengan segala kekurangan KPK saat ini. Pejuang itu tak akan meninggalkan gelanggang sebelum kemenangan diraih. Selamat kepada mereka yang masih mampu setia mencintai KPK," kata Ghufron.

Hal itu dibalas sesama pimpinan KPK, Nawawi Pomolango. Bagi Nawawi, para pegawai KPK yang akhirnya memilih mundur dari KPK seharusnya tidak dipandang sebelah mata.

"Ini bukan soal pejuang dan pecundang, tapi pilihan dengan pemikiran," kata Nawawi.

(azr/dwia)