Nonton Film G30S/PKI Disebut Mubah, Apa Artinya?

Rosmha Widiyani - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 13:46 WIB
Ilustrasi film Pengkhianatan G30S/PKI
Foto: Ilustrator: Edi Wahyono/Nonton Film G30S/PKI Disebut Mubah, Apa Artinya?
Jakarta -

Menko Polhukam Mahfud Md menyebut nonton film G30S/PKI memiliki ketetapan layaknya hukum mubah dalam Islam. Pemerintah tidak melarang orang yang tidak atau akan menonton film G30S/PKI.

"Pemerintah tidak 'melarang' atau pun 'mewajibkan' untuk nonton film G30S/PKI tersebut. Kalau pakai istilah hukum Islam 'mubah.' Silakan saja," kata Mahfud lewat akun Twitter @mohmahfudmd.

Simak video 'PA 212 Akan Gelar Nobar G30S/PKI di Berbagai Daerah':

[Gambas:Video 20detik]



Dalam tulisan berjudul Islamic Divine Law (Shari'ah), Mashhad Al-Allaf menjelaskan mubah adalah satu dari lima ketetapan hukum dalam Islam. Mashhad Al-Allaf adalah seorang akademisi dalam bidang filsafat modern, yang salah satu karyanya adalah buku berjudul The Essence of Islamic Philosophy.

Mubah yang juga disebut ja'ez dan halal atau sah artinya adalah dibolehkan, meski secara moral tidak ada ketetapan yang sah (morally indiferent). Ketetapan atas sesuatu yang bersifat mubah bergantung pada tiap individu yang memiliki kebebasannya sendiri.

Tiap muslim bisa tidak atau melakukan semua kegiatan yang dipertimbangkan memiliki hukum mubah. Hukum mubah artinya tidak ada penghargaan atau hukuman, bila muslim menghindari atau justru melakukan berbagai hal yang memiliki ketetapan tersebut.

Mashhad menjelaskan, ada aturan dalam Islam yang menyatakan segala hal awalnya atau secara alami hukumnya adalah mubah. Hukum mubah sama dengan halal atau sah sesuai ketentuan hukum, seperti yang dijelaskan dalam Al Quran surat Al Maiddah ayat 5:

ٱلْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّيِّبَٰتُ ۖ وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖ وَٱلْمُحْصَنَٰتُ مِنَ ٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَٱلْمُحْصَنَٰتُ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ إِذَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَٰفِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِىٓ أَخْدَانٍ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِٱلْإِيمَٰنِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

Arab latin: Al-yauma uḥilla lakumuṭ-ṭayyibāt, wa ṭa'āmullażīna ụtul-kitāba ḥillul lakum wa ṭa'āmukum ḥillul lahum wal-muḥṣanātu minal-mu`mināti wal-muḥṣanātu minallażīna ụtul-kitāba ming qablikum iżā ātaitumụhunna ujụrahunna muḥṣinīna gaira musāfiḥīna wa lā muttakhiżī akhdān, wa may yakfur bil-īmāni fa qad ḥabiṭa 'amaluhụ wa huwa fil-ākhirati minal-khāsirīn

Artinya: "Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi."

Ketetapan mubah bisa berubah jika ada aturan lain atau larangan dari Allah SWT sebagai pencipta alam semesta. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu yang terlihat maupun tersembunyi di muka bumi serta seluruh alam raya, sesuai dalam Al-Baqarah ayat 29:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَٰتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

Arab latin: Huwallażī khalaqa lakum mā fil-arḍi jamī'an ṡummastawā ilas-samā`i fa sawwāhunna sab'a samāwāt, wa huwa bikulli syai`in 'alīm

Artinya: "Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu."

Meski tidak ada dosa jika melakukan atau menghindari perkara mubah, namun perkara tersebut bisa berubah menjadi sesuatu yang mendatangkan pahala. Misal melakukan adab makan dengan sangat baik, untuk memperbaiki kekuatan tubuh sehingga bisa membantu orang tua. Niat baik membantu orang tua inilah yang akhirnya mendapat ganjaran yang sesuai dari Allah SWT.

(row/erd)