Muhadjir: RI Penduduk Terbesar Ke-4 di Dunia, tapi Kasus COVID Urutan 22

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 13:30 WIB
Menko PMK, Muhadjir Effendy
Menko PMK Muhadjir Effendy (Foto: Dok Kemenko PMK)
Jakarta -

Menko PMK, Muhadjir Effendy, mengatakan dampak virus COVID-19 di Indonesia tidak separah negara lain. Muhadjir lantas membandingkan kasus Corona di Indonesia dengan negara-negara yang mempunyai jumlah penduduk paling banyak di dunia.

Pernyataan itu disampaikan Muhadjir saat menjadi pembicara narasumber dalam masa Ta'aruf mahasiswa baru UMY seperti disiarkan secara virtual, Senin (28/9/2020). Muhadjir awalnya mengibaratkan pandemi COVID-19 ini seperti mendayung di antara dua tebing yang terjal.

"Sekarang ini berada di dalam ibarat mendayung di sebuah sungai dimana kanan kirinya ada tebing, yang keras yang terjal, kalau kita tidak pandai mendayung, kala sampai menatap salah satu tebing maka kita akan celaka tentu saja karena perahu kita perahu besar, yaitu NKRI, maka pengendalian terhadap upaya kita untuk tidak terbentur salah satu tebing, yaitu tebing krisis ekonomi dan tebing krisis kesehatan maka kita harus pandai-pandai mengendalikan perahu kita," kata Muhadjir.

Muhadjir mengatakan penanganan COVID-19 di Indonesia sudah berada di jalur yang benar. Salah satu buktinya, kata Muhadjir, ekonomi Indonesia, meski mengalami defisit, tidak separah negara-negara lain.

"Alhamdulillah pemerintah di bawah kepemimpinan Bapak Presiden Joko Widodo sekarang kita berada di dalam track yang benar. Buktinya apa? Yaitu ekonomi kita walaupun mengalami minus defisit, pertumbuhannya tetapi tidak separah negara-negara lain, begitu juga angka kasus wabah COVID ini, kita juga tidak terlalu parah dibanding negara-negara besar yang lain," ujar Muhadjir.

"Kita tahu, Anak-anakku sekalian, Indonesia adalah memiliki jumlah penduduk terbesar nomor 4 di dunia, tetapi di dalam kasus COVID-19 ini, kita berada di dalam urutan antara nomor 21 dan nomor 22, sementara negara 5 besar yang lain, penduduk terbesar yang lain berada di urutan 1, 2, dan 3," sambung dia.

Muhadjir merinci satu per satu negara berpenduduk besar yang berada di urutan teratas kasus COVID-19. Sedangkan Indonesia berada di urutan nomor 22.

"Pertama Amerika, jumlah yang kena COVID sangat luar biasa, termasuk angka kematiannya, sementara Amerika penduduknya terbesar nomor 3 dunia. Kemudian yang kedua adalah India, kita tahu India jumlah penduduknya terbesar nomor 2 di dunia, yaitu 1,1 miliar, sekarang angka kasusnya dan angka kematiannya nomor 2 di dunia. Kemudian yang nomor 3 Brasil, Brasil adalah yang jumlah penduduknya nomor 5 di dunia, sekarang ranking ke-3 dengan jumlah kasus kematian dan kasus COVID terbesar di dunia," tutur Muhadjir.

Muhadjir mengatakan kasus COVID-19 di Indonesia tidak mengalami kenaikan eksponensial seperti diramalkan banyak pihak. Menurut Muhadjir, kasus COVID-19 memang naik-turun tapi dalam kondisi terkendali.

"Adapun negara penduduk terbesar yang lain, yaitu China dan Indonesia, alhamdulillah masih jauh kita berada di ranking 22. Sekarang kalau China lebih rendah lagi kalau tidak salah di 39 atau 40, dan ini harus kita syukuri keadaan ini, dan alhamdulillah perkembangan kasus itu tidak mengalami kenaikan yang eksponensial, seperti yang dibayangkan yang berlipat ganda dari waktu ke waktu tetapi relatif landai, memang ada naik turun dan alhamdulillah kita masih dalam kondisi terkendali," tutur Muhadjir.

Mahasiswa Dilibatkan Jadi Relawan Vaksin COVID-19

Dalam kesempatan itu, Muhadjir juga ditanya mengenai peran mahasiswa dalam situasi pandemi COVID-19 ini. Menurut Muhadjir, ada banyak hal yang bisa dilakukan, mulai dari sosialisasi dan edukasi protokol COVID-19 hingga bagi-bagi masker.

"Kemudian bagi-bagi masker yang sekarang sedang ada program bagi-bagi masker yang di beberapa daerah melibatkan mahasiswa, karena itu mumpung sekarang ini kesempatan, mahasiswa untuk ikut ambil bagian itu," ujar Muhadjir.

Muhadjir kemudian mengatakan mahasiswa juga bisa menjadi relawan dalam proses vaksinasi COVID-19. Selain itu, kata Muhadjir, guru dan dosen akan menjadi prioritas vaksinasi.

"Termasuk nanti ketika vaksin akhir tahun sudah akan datang kita sudah mengimpor vaksin di samping nanti ada produksi vaksin dalam negeri, itu nanti relawannya juga mahasiswa. kita harapkan untuk membantu vaksinasi karena sekitar 140 jutaan untuk tahap pertama nanti mereka yang akan divaksinasi termasuk para dosen, para guru akan diberikan prioritas untuk penerima vaksin pertama untuk membangun apa? untuk pembangun herd immunity, jadi herd immunity itu imunitas kawanan, atau mereka yang sudah tidak mempan oleh COVID, sekelompok orang tidak mempan oleh COVID," ujar Muhadjir.

"Itu targetnya sekitar 70 persen penduduk Indonesia ini, kalau mereka sudah diimunisasi termasuk yang sudah terinfeksi COVID itu punya daya tahan imunitas sudah terbentuk, kalau itu sudah 70 persen maka sisanya terpagari oleh mereka yang sudah imun ini," sambung dia.

(knv/fjp)