Pakar: Febri Diansyah Punya Hak Mundur, Kok ICW Kaitkan dengan Ketua KPK?

Eva Safitri - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2020 14:27 WIB
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah melepas jabatan juru bicara KPK.
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah melepas jabatan Kabiro Humas KPK. (Ibnu/detikcom)
Jakarta -

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai mundurnya Febri Diansyah karena kondisi KPK kini tidak seperti dulu lagi. ICW mengaitkan itu dengan Ketua KPK Firli Bahuri, yang hanya menuai kontroversi tapi minim prestasi. Pengamat dan praktisi hukum Syahrir Irwan Yusuf berpendapat berbeda.

"Saya berpendapat apa yang telah diputuskan oleh Kepala Biro Humas KPK Febri Diansyah untuk mengundurkan diri dari status jabatan yang diemban dan status pegawai KPK merupakan hak pribadi dan merupakan suatu pilihan. Tentu pertimbangan pengunduran diri ini menjadi subjektif karena ini menyangkut keputusan orang per orang. Tentu juga maksud dari pengunduran diri ini pun menjadi wilayah privat bagi yang bersangkutan," kata Syahrir dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/9/2020).

Dia justru heran kenapa ICW mengaitkan hal itu dengan pimpinan KPK. Syahrir menyebut hal ini menggiring opini dan mempolitisasi seolah-olah ada kesalahan besar yang dilakukan pimpinan KPK.

"Saya menjadi terheran saja atas pendapat peneliti ICW tersebut, yang menggiring opini bahwa mundurnya Kepala Biro Humas KPK ini seakan-akan penyebabnya adalah karena disebabkan oleh seorang Ketua KPK. Seperti saya baca beritanya pada media online," ujarnya.

"Saya mempertanyakan logika berpikir serta dasar kebenaran objektif pendapat peneliti ICW tersebut. Di mana letak korelasi objektif-faktanya? Bagaimana perspektif pembuktian premis hubungan sebab-akibat tersebut. Saya kira ini kurang fair dan kurang objektif, dan cenderung opini ini tendentif dan sangat kurang didukung objektivitas dalam beropini," lanjut Syahrir.

Syahrir menyebut pengunduran diri bagi pejabat publik adalah hal yang biasa. Dia mengambil contoh beberapa tokoh yang bahkan mundur dari jabatan yang lebih tinggi dari Febri.

"Bapak Mohammad Hatta pernah mundur dari jabatan sebagai Wapres, Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga pernah mundur dari jabatannya sebagai Wapres. SBY juga pernah mengundurkan diri dari jabatan menteri saat pemerintahan Gus Dur. Pengunduran diri tokoh-tokoh bangsa tersebut adalah keputusan pribadi dan hak pribadi," ucapnya.

"Termasuk juga pengunduran diri seorang yang dalam kapasitas jabatan publiknya hanya Kepala Biro Humas KPK, ini adalah suatu peristiwa yang sangat wajar dan biasa-biasa saja. Bukan peristiwa luar biasa, sehingga tidak perlu adanya politisasi dan penggiringan opini atas keputusan pengunduran diri itu seolah terjadi sesuatu yang luar biasa. Ini adalah koreksi terhadap pendapat seorang peneliti ICW berinisial KR," imbuh Syahrir.

Febri Diansyah mengajukan pengunduran diri sejak 18 September 2020. Surat pengunduran diri Febri Diansyah ditujukan kepada pimpinan KPK, Sekjen KPK, dan Kepala Biro SDM KPK. Febri mengatakan kondisi politik dan hukum telah berubah bagi KPK. Kondisi itu membuat dia akhirnya memutuskan mundur.

Peneliti ICW Kurnia Ramadhana menyebut ada faktor yang menjadi alasan mundurnya Febri. Dia mengaitkan dengan kondisi KPK yang dipimpin Firli Bahuri dan revisi UU KPK.

"Kalau dulu kita melihat kelembagaan KPK menuai banyak prestasi. Namun, sejak Firli Bahuri menjabat Ketua KPK, seluruhnya berubah menjadi kontroversi," kata Kurnia kepada wartawan, Jumat (25/9/2020).

"Jika saja orang yang terbukti melanggar kode etik tidak terpilih menjadi pimpinan KPK dan UU KPK lama masih berlaku, sudah pasti tidak akan ada pegawai KPK yang mengundurkan diri," lanjutnya.

Tonton video 'Surat Cinta Febri Diansyah untuk KPK':

[Gambas:Video 20detik]



(eva/idh)