Round-Up

Mulai Muncul Suara Golput Pilkada yang Tak Ditunda Gegara Corona

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2020 07:59 WIB
Ilustrasi Pemungutan Suara di bilik suara pada pemilu 2014
Foto: dok. detikcom
Jakarta -

Sejumlah kelompok dan individu secara terang-terangan memilih dan mengingatkan tingginya suara golput pada Pilkada 2020. Mereka memilih golput karena menilai situasi pesta rakyat di tengah pandemi dirasa tak tepat.

Salah satunya yang memilih golput adalah guru besar dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra. Azyumardi menolak keras Pilkada 2020 pada 9 Desember mendatang.

"Saya golput Pilkada 9 Desember 2020 sebagai ungkapan solidaritas kemanusiaan bagi mereka yang wafat disebabkan wabah Corona atau terinfeksi COVID-19," kata Azyumardi kepada wartawan, Jumat (25/9/2020).

Azyumardi menilai jika pilkada di tengah pandemi Corona bisa membahayakan masyarakat. Dia khawatir kasus dan angka kematian karena Corona akan meningkat jika pilkada tetap digelar.

Dia pun mengusulkan dua opsi pemerintah. Opsi pertama ialah menunda pilkada selama 1 tahun atau membuat pilkada dipilih tidak langsung, yaitu melalui DPRD.

"Opsinya ada 2 yang salah satunya bisa dipilih dan ditetapkan lewat perppu. Pertama, menunda pilkada langsung sekitar 1 tahun sampai betul-betul ada pelandaian wabah, kedua menunda 3 bulan dan mengalihkan pilkada langsung ke pilkada tidak langsung lewat DPRD," sebut dia.

Kemudian, ada Gerakan Pemuda (GP) Al Washliyah Sumatera Utara (Sumut). Mereka mewanti-wanti Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal tingginya warga yang tak menggunakan hak pilih alias golput jika pilkada tidak ditunda. Golput tinggi dinilai bakal terjadi karena banyak ormas yang meminta Pilkada 2020 ditunda.

"Apabila ormas-ormas Islam dan para ulama mengeluarkan fatwa melarang umatnya untuk datang ke TPS seperti mengimbau untuk tidak melaksanakan salat di masjid ketika wabah COVID menyebar luas, bisa dipastikan akan terjadi angka golput sangat besar terjadi di Pilkada 2020," kata ketua GP Al-Wasliyah Sumut, Zulham Efendi Siregar, kepada wartawan, Selasa (22/9/2020).

Ormas-ormas Islam yang sudah meminta agar Pilkada 2020 ditunda antara lain adalah PP Muhammadiyah, PBNU, dan PB Al-Washliyah. Permintaan ini disampaikan karena jumlah orang yang terpapar virus Corona di Indonesia yang masih tinggi.

Ketua Badko HMI Sumut Alwi Hasbi Silalahi mengatakan angka golput bisa tinggi karena warga takut datang ke TPS di tengah pandemi Corona. Dia mengaku khawatir warga malah terinfeksi Corona gara-gara ke TPS.

"Melihat angka yang masih tinggi ini, tentu masyarakat akan menghindari keramaian, bisa dibilang takut. Makanya saat pilkada nanti ada kemungkinan banyak yang tidak datang untuk memilih," kata Hasbi.

Lembaga Kajian Politik Nasional (KPN) memprediksi golput di Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) 2020 akan lebih dari 50%. Ini berdasarkan hasil survei terbaru KPN terkait Pilwalkot Tangsel yang digadang-gadang diikuti oleh 3 pasangan calon.

Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling kepada 440 responden di Kota Tangsel pada 17-24 Juli 2020. Sampling of error survei sebesar kurang lebih 4,8% pada tingkat kepercayaan sebesar 95%.

Pilwalkot Tangsel hingga saat ini diramaikan oleh pasangan calon dari 3 klan dinasti politik, baik dari lokal maupun nasional. Tiga pasangan tersebut adalah Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan yang diusung Golkar dan PPP, Siti Nur Azizah-Ruhama Ben yang sudah didukung Partai Demokrat-PKS, serta Muhammad-Rahayu Saraswati pasangan yang sudah pasti diusung PDIP dan Gerindra.

Namun berdasarkan survei KPN yang dirilis Rabu (5/8/2020), golput rupanya mengalahkan tiga pasangan tersebut. Sebanyak 55% responden menyatakan akan golput pada Pilwalkot Tangsel 2020. Berikut hasilnya:

Golput: 55%
Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan: 17%
Siti Nur Azizah-Ruhama Ben: 15,2%
Muhammad-Rahayu Saraswati: 9,9%

Selanjutnya
Halaman
1 2