Gatot Kaitkan Pergantian Panglima TNI-Film G30S/PKI, PDIP: Tak Mencerdaskan!

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 18:56 WIB
Bambang Pacul Wuryanto
Bambang Wuryanto (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Eks Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menceritakan pergantian dirinya dari pucuk pimpinan TNI terkait dengan perintahnya menonton film G30S/PKI. Gatot menyebut politikus PDIP-lah yang disebutnya memberi pesan soal pergantian itu.

Elite PDIP Bambang Wuryanto memberi 'pencerahan' kepada Gatot. Bambang meminta lebih baik Gatot bicara yang lebih penting dan mencerdaskan.

"Yang itu tidak bersifat raising up, menghasilkan yang baik-baik bagi bangsa ini, maka sebaiknya didrop. Jadikanlah itu pembicaraan informal. Pembicaraan publik itu harus hal-hal yang mencerdaskan, masalah yang mencerdaskan bangsa ini. Karena setiap tugas anak bangsa sesuai dengan kesepakatan berbangsa dan bernegara ini di dalam konstitusi UUD 1945 di pembukaan, salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Bambang, di kompleks gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Bambang Wuryanto, yang akrab disapa Pacul, mengatakan Gatot tak perlu mengungkap nama politikus PDIP yang memberi pesan soal suksesinya. Menurut Pacul, tak ada hal yang penting dari situ.

"Nggak usah (Gatot ungkap nama), ngapain gitu loh? Itu kan untuk apa? Kalau aku, nggak usah, nanti dikiranya kita yang begitu bener, kan gitu," ujar Pacul.

Namun, menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI itu, yang terpenting adalah bicara yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Pacul khawatir, jika tak memberi hal positif ke masyarakat, justru membuat perpecahan.

"Tapi bagi kita yang penting, itu kan diskusi yang tidak memberikan konstruksi yang kecerdasan baik. Itu kan nanti ujungnya perpecahan anak bangsa," ucap Pacul.

Soal film G30S/PKI, Pacul mengatakan sudah ada ahli sejarah yang dapat menjelaskan. Dia menilai ucapan Gatot tak patut didiskusikan.

"Bahwa soal nonton, kan sudah dijelaskan itu, urusan kesejarahan. Ini kan sudah ada yang menjelaskan, ada ahlinya. Kenapa mesti kayak gini, menjadi sebuah diskusi," sebutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2