Saat F-PDIP Ingatkan Pesan 'Jas Merah' Bung Karno ke Nadiem Makarim

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 18:51 WIB
Suasana Mendikbud Nadiem Makarim rapat bersama Komisi X DPR (Rahel Narda/detikcom)
Suasana Mendikbud Nadiem Makarim rapat bersama Komisi X DPR (Rahel Narda/detikcom)
Jakarta -

Komisi X DPR RI mengadakan rapat bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDIP Sofyan Tan menyoroti isu penghapusan mata pelajaran sejarah yang menjadi sorotan publik.

Hal ini disampaikan Sofyan dalam rapat yang digelar di gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9/2020). Ia juga mengingatkan Nadiem tentang pesam 'jas merah' dari Bung Karno agar tidak meninggalkan sejarah.

"Ada kata Bung Karno mengatakan jas merah: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah," kata Sofyan.

Sofyan yakin kajian yang dilakukan Nadiem bersama Kemendikbud terkait kurikulum dimaksudkan untuk menghadirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Ia kembali mengingatkan agar Nadiem tidak meninggalkan sejarah ataupun ideologi negara.

"Kami sadar apa yang Mas Menteri sampaikan dalam untuk menempuh kualitas sumber daya Indonesia dengan menggabungkan memberikan mencari talenta, memberikan pendidikan sains, dan sebagainya. Kita tidak boleh meninggalkan yang berhadapan dengan misalnya soal ideologi negara sejarah. Karena dari sejarah itu kita bisa memandang ke depan," ujarnya.

Lebih lanjut Sofyan menyampaikan pesan dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, Megawati berharap agar pelajaran sejarah diajarkan sejak jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD).

"Sampai pesan kepada Ketua Umum kami (PDIP) Ibu Hajjah Megawati Soekarnoputri menyampaikan bahkan 'kalau bisa memungkinkan, apa nggak bisa mulai dari PAUD' katanya," ujar Sofyan.

"Artinya, mengenalah minimal pendidikan yang bermain, tapi mengetahui bahwa pendiri bangsa ini adalah Bung Karno dan Bung Hatta," sambungnya.

Dalam rapat, Nadiem pun mengatakan isu penghapusan mata pelajaran sejarah tidak benar. Menurutnya, itu merupakan salah satu kajian permutasi yang sedang dilakukan di Kemendikbud.

"Mengenai penghapusan pelajaran sejarah, semua permutasi itu akan kami kaji dan respons, masyarakat akan kami konsiderasi. Hasil kajian itulah yang ingin kami tunjukkan kepada Komisi X sebenarnya, tapi dalam kondisi seperti ini sudah ada yang keluar, bukan hanya belum final, tapi naik ke saya saja belum, itu testing kita," ungkap Nadiem.

(hel/idn)