Tersangka Andi Irfan Disebut Buang Ponsel ke Laut, Ini Kata Kejagung

Wilda Nufus - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 12:05 WIB
Direktur Penyidikan Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah meninggalkan Gedung Merah Putih KPK,  Jakarta, Senin (7/9/2020). Febrie menyambangi KPK terkait penyidikan kasus jaksa Pinangki Sirna Malasari. Belum diketahui materi pertemuan Febrie dengan pihak KPK.
Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Febrie Adriansyah (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) belum menemukan soal penghilangan alat bukti berupa ponsel oleh tersangka Andi Irfan Jaya yang dibuang ke Laut. Kejagung menyebut informasi itu diperoleh dari keterangan pihak lain.

"Soal alat bukti kan dari orang lain, bukan dari tersangka," kata kepada wartawan di Gedung Bundar Jampidsus, Jalan Sultan Hasanuddin Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2020).

Kendati demikian, Febrie menyebut pemeriksaan terhadap Andi Irfan masih tahap awal. Pihaknya masih mendalami beberapa keterangan dari Andi untuk mengetahui aliran dana dalam sengkarut Djoko Tjandra.

"Ya masih seperti semula lah, belum ada pengakuan yang signifikan," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) mengaku mendapat informasi bahwa Andi Irfan Jaya telah menghilangkan alat bukti berupa sebuah ponsel ke Laut Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Ponsel tersebut dibuang diduga untuk menghilangkan bukti percakapannya dengan Djoko Tjandra.

"Berdasar informasi, AIJ telah membuang handphone yang dimilikinya dan dipakai pada bulan November 2019 hingga Agustus 2020 berupa handphone merek iPhone 8 yang diduga telah dibuang di laut Losari, waktu pembuangan handphone diduga sekitar bulan Juli-Agustus 2020," kata Koordinator MAKI, Boyamin Saiman, dalam keterangan pers tertulis, Selasa (22/9).

Boyamin menduga ponsel yang dibuang Andi Irfan merupakan isi percakapannya antara jaksa Pinangki Sirna Malasari dan Djoko Tjandra. Percakapan itu, kata Boyamin, disinyalir kuat terkait proposal action plan beserta upah untuk pengurusan fatwa Mahkamah Agung (MA).

"Handphone tersebut diduga berisi percakapan AIJ dengan PSM dan JST terkait rencana permohonan fatwa perkara JST dan diduga berisi action plan pengurusan fatwa beserta upah jika berhasil mengurus fatwa," tutur Boyamin.

Boyamin curiga Andi Irfan membuang ponsel miliknya ini untuk menghilangkan barang bukti. Termasuk, kata Boyamin, menghilangkan jejak pihak-pihak yang diduga tokoh politisi yang turut membantu pengurusan fatwa MA.

Dalam skandal suap ini, Djoko Tjandra diduga memberikan suap kepada Pinangki, yang menjanjikan pengurusan fatwa ke Mahkamah Agung (MA) agar bebas dari eksekusi hukuman pidana dalam perkara pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali. Andi Irfan Jaya diduga sebagai perantara suap dari Djoko Tjandra ke Pinangki.

(ibh/ibh)