Sampoerna Foundation Bantah Ikut Sederhanakan Kurikulum-Usul Sejarah Dihapus

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 08:15 WIB
Education school test concept : Hands student holding pencil for testing exams writing answer sheet or exercise for taking fill in admission exam multiple carbon paper computer at university classroom
ilustrasi ujian (Foto: iStock)
Jakarta - Beredar isu yang menyebutkan ada keterlibatan dari Sampoerna Foundation dalam proses penyederhanaan kurikulum nasional. Putera Sampoerna Foundation (PSF) angkat bicara tentang isu tersebut.

Head of Marketing and Communications Putera Sampoerna Foundation, Ria Sutrisno menyatakan pihaknya tidak pernah terlibat proses penyederhanaan kurikulum dalam bentuk apa pun. Mulai dari partisipasi dalam diskusi atau pun perubahan dalam kurikulum nasional.

"Perubahan kurikulum nasional merupakan tanggung jawab pemerintah dan bukan tanggung jawab masyarakat atau sektor privat. PSF tidak pernah terlibat ataupun berpartisipasi dalam diskusi atau pembahasan kurikulum nasional dan perubahan-perubahannya," kata Ria dalam keterangan tertulis pada Selasa (22/9/2020).

Ria menegaskan PSF tidak pernah berinisiatif melakukan penyederhanaan kurikulum nasional. PSF juga tidak mengusulkan penghapusan mata pelajaran sejarah di sekolah.

"PSF tidak berinisiatif melakukan perubahan atau penyederhanaan kurikulum nasional. PSF juga tidak mengusulkan penghapusan mata pelajaran sejarah. PSF fokus melatih dan menyebarkan praktik baik pendidikan ke seluruh penjuru Indonesia," ujar Ria.

Lebih lanjut, Ria pun mengatakan pemerintah tidak pernah meminta usulan terhadap lembaga tersebut. Ia menegaskan PSF tidak pernah diminta untuk mengkaji atau pun menyusun naskah akademik oleh pemerintah.

"Sebagai lembaga, PSF tidak diminta pemerintah dan tidak mengusulkan kepada pemerintah untuk melakukan pengkajian, analisis atau penyusunan naskah akademik," tuturnya.

Untuk diketahui, beredar kabar yang menyebut Sampoerna Foundation terlibat dalam penyederhanaan kurikulum yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Mantan Ketua Tim Inti Pengembang Kurikulum 2013 (K13) Said Hamid Hasan menyebut Tim Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) tidak menjadi pemikir utama dalam proses penyederhanaan kurikulum baru itu.

"Saya katakan saya dapat informasi dari orang yang juga pernah diundang ke oleh tim pengembang kurikulumnya itu bukan dari Puskur. Jadi itu yang saya katakan," kata Hamid, Selasa (22/9).

"Jadi tim pengembang kurikulum itu diajak, tapi bukan sebagai lembaga, tapi sebagai individu, beberapa individu diajak di situ. Nah, tim itu yang mengembangkan kurikulum itu," sambung Hamid.

Lebih lanjut, menurut Hamid, dalam tim yang mengembangkan kurikulum baru, terdapat pihak dari Sampoerna Foundation. Namun ia tidak tahu apakah Sampoerna Foundation yang mengusung inisiatif utama dalam penyederhanaan kurikulum itu.

"Nah, tim ini, berdasarkan informasi yang saya peroleh, setiap orang itu adalah dari Sampoerna Foundation, Sampoerna University. Jadi bukan saya katakan inisiatif mereka. Bukan. Tapi apakah inisiatif mereka atau bukan, apakah pikiran mereka atau bukan, itu yang saya tidak tahu," ucap Hamid.

Namun, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Maman Fathurrohman menepis kabar keterlibatan Sampoerna Foundation dalam isu tersebut. Maman juga menegaskan inisiasi pengembangan kurikulum nasional dilakukan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk).

"Berita itu tidak benar. Inisiasi, pengembangan, fasilitasi, dan evaluasi kurikulum nasional dilakukan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk). Puskurbuk adalah satu-satunya lembaga yang memiliki kewenangan tugas dan fungsi terkait pengembangan kurikulum, tidak oleh yang lain," ujar Maman kepada detikcom.

Tonton video 'Mendikbud Nadiem: Tak Ada Penghapusan Mapel Sejarah di Kurikulum!':

[Gambas:Video 20detik]



(hel/ibh)