Etika Politik dalam Al-Qur'an (2)

Adakah Sistem Politik dalam Al-Qur'an?

Prof. Dr. Nasaruddin Umar - detikNews
Rabu, 23 Sep 2020 07:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Dalam artikel terdahulu dijelaskan bahwa ayat-ayat yang berhubungan dengan urusan kenegaraan tidak lebih dari 10 ayat. Jika yang dimaksudkan sistem politik di dalam Al-Qur'an adalah keseluruhan rancang-bangun politik berdasarkan ayat-ayat Al-Qur'an maka jelas tidak cukup mamadai untuk mengatakan ada sistem politik dalam Al-Qur'an. Sekalipun digabungkan dengan 70 ayat yang berbicara tentang urusan perdagangan, perekonomian, jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, gadai, perseroan, kontrak, tetap masih belum mamadai untuk disebut sistem politik menurut Al-Qur'an.

Jika demikian kenyataannya, bagaimana menjelaskan maksud ayat-ayat sebagai berikut: Hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu, Aku lengkapkan nikmat-Ku kepadamu dan Aku ridha menjadikan Islam sebagai agamamu (Q.S. al-Maidah/5:3), Tidak Kami lupakan suatu apapun dalam Kitab itu (Q.S. al-An'am/6:38), dan Dan Kami turunkan Kitab itu kepadamu untuk menjelaskan segala-galanya (Q.S. al-Nahl/16:89). Menurut Ibn Katsir dan Ibn Abbas yang dimaksud "Aku sempurnakan bagimu agamamu" ialah urusan keimanan telah telah disempurnakan, tidak perlu lagi lagi ada tambahan. Memang setelah ayat ini turun tidak ada lagi ayat turun mengenai urusan halal dan haram. Menurut Rasyid Ridha, yang dimaksud oleh ayat itu ialah penyempurnaan iman, hukum, budi pekerti, ibadat, dengan terperinci dan muamalat dalam garis besar. Sedangkan menurut al-Zamakhsyari yang dimaksud dengan kata akmala (Aku sempurnakan) di dalam ayat pertama di atas ialah melindungi yaitu: Aku lindungi kamu dari musuh, sehingga kamu mencapai kemenangan dan musuh mengalami kekalahan, bukannya berarti keselurusan urusan manusia sepanjang masa sudah diurus scara keseluruhan dalam Al-Qur'an. Yang dimaksud dengan penyempurnaan agama bukanlah penyempurnaan dalam arti seluruh aspek kehidupan tetapi perinsip-perinsip ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem hidup kemasyarakatan manusia dalam segala seginya. Jika mau diartikan dengan segala hal mungkin dalam arti penyempurnaan hukum, ajaran dasar agama, atau halal dan haram.


Dalam konteks ayat kedua (Tidak Kami lupakan suatu apapun dalam Kitab itu), menurut Ibn Katsir Tuhan mengetahui semua binatang, sesuai dengan konteks (munasabah) ayat yang berbicara tentang komunitas bintanag. Maksudnya Allah Swt tidak pernah lupa memberikan rezeki kepada suatu binatang pun. Menurut al-Zamakhsyari yang dimaksud dengan al-Kitab dalam ayat kedua di atas ialah bukanlah al-Qur'an, tetapi al-Lauh al-Mahfudz yang ada di langit. Pada ayat kedua, yang dimaksud kata al-Kitab dalam ayat-ayat tersebut tidak mesti berarti al-Qur'an, tetapi boleh al-Lauh al-Mahfuz atau Umm al-Kitab atau ilmu Tuhan. Dalam arti ini al-Kitab mengandung segala-galanya dan memberi penjelasan tentang segala-galanya. Tetapi kalau al-Kitab diartikan al-Qur'an, maka kata-kata: "Tidak Kami lupakan suatu apapun" berarti "tidak suatu apapun mengenai soal-soal keagamaan." Tidak Kami lupakan didalamnya soal-soal hidayah, yaitu dasar-dasar agama, pegangan-pegangan, hukum-hukum, petunjuk tentang pemakaian daya jasmani serta daya akal untuk kemaslahatan manusia." Ulama tafsir lain mengatakan al-Kitab itu mengandung semua ilmu pengetahuan yang ada di jagat raya ini, namun pendapat ini tidak pernah ditemukan dari kalangan sahabat dan tabi'in ataupun dari ulama salaf.


Sedangkan ayat ketiga yang menyatakan: "Kitab itu menjelaskan segala-galanya" menurut Mujahid berarti menjelaskan semua urusan yang berhubungan dengan halal dan haram. Dan menurut al-Zamakhsyari yaitu menerangkan segala-galanya mengenai soal agama, dan itu pun dengan bantuan sunnah Nabi, ijma', qias, dan ijtihad. Dari keterangan ayat dan mufassir tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa tidak cukup dasar untuk bisa menyebut ada sistem politik dalam Al-Qur'an. Mungkin yang dapat kita katakan bahwa yang ada dalam Al-Qur'an adalah dasar-dasar politik atau etika politik di dalam Al-Qur'an.

(lus/lus)