Apakah Banjir Bisa Memperparah Penularan COVID-19?

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 13:20 WIB
Pasca hujan deras semalem, terdapat genangan air di depan Perumahan Green Garden, Kedoya, Jakarta. Genangan ini menjadi tempat main anak-anak.
Ilustrasi (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Banjir melanda sejumlah kawasan di Indonesia, tak terkecuali di Jakarta, wilayah dengan angka COVID-19 tertinggi di Indonesia. Apakah banjir bisa memperparah penularan COVID-19?

SARS-CoV-2, nama lain dari virus Corona, menular lewat droplet (cairan dari hidung dan mulut) lewat bersin, batuk, hingga ludah. Saat banjir datang, tempat hidup warga terendam air.

Dikutip dari situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (21/9/2020), ada penyakit yang menular lewat air (water-borne disease), misalnya penyakit tifus, kolera, leptospirosis, dan hepatitis A.

Ada pula penyakit yang menular lewat vektor, yakni dibawa oleh hewan tertentu. Penyakit vector-borne disease ini antara lain demam berdarah, penyakit kuning, dan virus West Nile. Hewan-hewan pembawa penyakit (misalnya nyamuk) bisa saja berkembang biak lebih banyak bila kondisinya memungkinkan, gara-gara banjir atau hal lainnya.

Lalu bagaimana dengan virus Corona?

Dalam kondisi banjir, saluran-saluran got tergenang air, sungai-sungai meluap, bahkan jamban juga ikut terendam. Air banjir bisa saja mengandung urine hingga tinja banyak warga, sangat mungkin pula mengandung droplet berupa ludah atau ingus sembarang orang.

Virolog (ahli virus) Sebastian Wurtzer dari perusahaan air minum Eau de Paris menjelaskan, ada konsentrasi virus Corona di air limbah. Dia melakukan riset soal kandungan virus Corona di air limbah saat wabah COVID-19 merebak. Dia hendak menyelisik potensi kandungan virus di air limbah untuk memprediksi pandemi COVID-19 gelombang kedua.

"Got-got menyediakan data wabah dalam waktu yang sebenarnya (real-time), karena mereka mengumpulkan tinja dan urine secara konstan dan dapat mengandung virus Corona yang telah menginfeksi manusia," demikian kata Wutrzer, dilansir Science Magazine.

Studi serupa dijalankan oleh kelompok ilmuwan dari Belanda dan Amerika Serikat, Bertsch. Mereka meneliti saluran pembuangan yang menampung limbah 600 ribu orang di Australia, pada Marte dan April 2020. Mereka menemukan, virus Corona banyak ditemukan di limbah itu. Saat puncak wabah, virus Corona semakin banyak ditemukan di limbah itu.

Tonton juga video 'Sampah Sebanyak 60 Truk Diangkut dari Pintu Air Manggarai':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2