Ibu Siksa Anak karena PR, Komisi X Singgung Program Parenting Kemendikbud

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Selasa, 22 Sep 2020 06:11 WIB
Hetifah Sjaifudian Golkar
Foto: Hetifah Sjaifudian (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Komisi X DPR RI menyayangkan peristiwa ibu di Parepare, Sulawesi Selatan yang menyiksa anaknya lantaran tidak mengerjakan tugas sekolah. Komisi X mendorong agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membuat program pendampingan kepada orang tua selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) diberlakukan.

"Kejadian ini sangat menyedihkan. Memang ini masa yang sangat sulit bagi kita semua, dan tingkat stres sangat rentan untuk menguat. Akibatnya, secara psikologis mungkin sekali terganggu atau dilampiaskan kepada orang-orang di sekitar kita, dan anak adalah yang paling rentan," kata Wakil Ketua Komisi X, Hetifah Sjaifudian kepada wartawan, Senin (21/9/2020).

Hetifah meminta Kemendikbud agar lebih serius menjalankan program parenting kepada orang tua siswa untuk mendampingi anak selama PJJ berlangsung. Dia menyebut penyampaian program itu bisa dilakukan dengan memanfaatkan petugas Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

"Untuk Kemendikbud, saya harap dapat lebih serius lagi menggarap program-program parentingnya. Jika bisa, adakan program konsultasi keluarga di mana keluarga dapat dibimbing oleh guru PAUD atau kader PKK dalam menjalani PJJ ini, dan curhat jika ada permasalahan keluarga dalam melewati pandemi ini," jelasnya.

Menurut Hetifah, Kemendikbud telah menerbitkan modul panduan kepada orang tua siswa selama PJJ. Namun, perlu penjelasan terkait modul tersebut kepada orang tua siswa.

"Baru saja diterbitkan modul-modul panduan bagi orang tua. Semacam mentor, aktivis pendidikan seperti PAUD atau PKK bisa jadi mentor pendamping. Penting orang tua mendapat penguatan dan peningkatan kompetensi," katanya.

Kepada sekolah, Hetifah berharap guru mengutamakan kesejahteraan (well being) siswa daripada penuntasan kurikulum. Dia menyebut guru harus peka dengan kondisi siswa dan keluarganya.

"Oleh karena itu saya tekankan sekali lagi kepada pihak sekolah, dalam PJJ ini agar mengutamakan well being siswa daripada penuntasan kurikulum. Guru harus peka akan keadaan siswa dan keluarganya, harus terus dipantau dan ditindaklanjuti jika ada yang tak biasa," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2