Dinilai Masih Memiliki Aura Buruk, SBY Diruwat Lagi

Dinilai Masih Memiliki Aura Buruk, SBY Diruwat Lagi

- detikNews
Jumat, 13 Jan 2006 17:02 WIB
Solo - Cara pandang setiap orang dalam menyelesaikan persoalan memang berbeda-beda. Seorang ahli perhitungan Jawa di Solo hari ini meruwat Presiden SBY secara 'in absentia'. Alasan dia, banyaknya bencana yang terjadi di Tanah Air adalah karena aura buruk bawaan lahir sang Presiden.Inisiator ruwatan itu adalah KRH Darmodipuro, seorang ahli perhitungan Jawa yang juga menjabat Kepala Museum Radya Pustaka, Solo. Ruwatan juga digelar di gedung belakang museum tersebut, Jumat (13/1/2006) siang. Darmodipuro yakin, Yudhoyono memiliki aura jelek yang merupakan bawaan lahir.Sang Presiden lahir pada Jumat Kliwon 9 September 1949, masuk dalam wuku Bala. Wuku adalah semacam zodiak namun hanya berumur sepekan, dimulai hari Minggu dan berakhir Sabtu. Wuku Bala, kata Darmodipuro, memiliki sejumlah watak buruk yang berpengaruh pada kepribadian orang yang dilahirkan dalam pengaruh wuku tersebut."Sejak terpilih sebagai Presiden RI, negara dan bangsa kita diterpa bencana silih berganti. Ada tsunami, banjir, kebakaran, wabah penyakit, pesawat jatuh, tanah longsor dan lainnya yang merenggut banyak korban nyawa. Ini bisa terkait dengan wuku yang beliau miliki. Diperlukan medium untuk menghilangkan yakni melalui ruwatan ini," papar dia.Dalam kertas yang disusun Darmodipuro tertulis watak dan tabiat seseorang yang lahir dalam wuku Bala tersebut. Di antaranya adalah sifat suka berbuat huru-hara, berwatak dengki dam senang membantu kejahatan. Ini sesuai dengan dewa yang menaungi yaitu Dewi Durga.Sifat jelek lainnya adalah suka pamer kekayaan, manis katanya tapi sangat tinggi hati, berpikiran cerdas tapi angkuh dan lain-lainnya. "Unsur jelek dan kesialan dari wuku ini mempengaruhi alam dan nasib rakyat Indonesia mengingat beliau adalah pemimpin bangsa kita saat ini," lanjut dia.Atas keyakinannya itulah maka dia menggelar dan memimpin langsung ruwatan untuk Sang Presiden. Sejumlah ulama Kraton Surakarta dihadirkan sebagai petugas doa. Sesaji dan hidangan yang dipersyaratkan digelar. Sedangkan sosok Yudhoyono diwakili oleh foto yang ditempatkan di dekat tumpeng sesaji.Ruwatan KeduaRuwatan wuku seperti itu bukan yang pertamakalinya dilakukan untuk mengusir 'pengaruh jahat' yang ada di tubuh Yudhoyono. Pertengahan bulanJuni 2005 lalu hal serupa juga telah dilakukan oleh Darmodipuro setelah bencana tsunami mengguncang Aceh dan Sumatera Utara.Lalu apa alasan dia menggelar ruwatan lagi? "Rupanya hingga kini musibah masih saja terjadi, karena itu kami perlu meruwat beliau sekali lagi." Kalau nanti tetap tidak manjur maka harus berapa kali lagi ruwatannya, Mbah Darmo? (nrl/)


Berita Terkait