Ambulans-Nakes Kewalahan, Satgas COVID-19 Minta Warga Patuhi Protokol Kesehatan

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 12:33 WIB
poster
Ilustrasi Corona (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 mengungkap letihnya tenaga medis yang menangani pasien COVID-19. Satgas pun meminta masyarakat terus mematuhi protokol kesehatan.

"Memang saat ini tenaga medis yang ada cukup keletihan juga, tapi kita usahakan mereka tetep bisa gembira, supaya mereka imunnya juga tetap baik, tetap semangat juga, karena memang kerjaan kita ini masih panjang kelihatannya, masih belum ada tanda-tanda kita mau turun, malah naik terus kita," kata Kepala Bidang Koordinator Relawan Medis Satgas Penanganan COVID-19, Jossep F William, dalam diskusi yang disiarkan BNPB, Senin (21/9/2020).

Jossep mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan organisasi profesi seperti IDI dan PPNI. Satgas, kata dia, meminta penambahan jumlah tenaga kesehatan untuk menangani COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19.

"Kami bekerja sama dengan organisasi profesi, IDI, PRNI untuk menyediakan tenaga yang dibutuhkan di RSD yang dibutuhkan. Perawat masih standby sekitar 2.000-an, bidan masih banyak. Tenaga kesehatan yang lain ini yang agak mulai habis. Kita sedang bekerja sama dengan organisasi yang lain untuk menambah lagi," ujarnya.

Tak hanya tenaga kesehatan, Jossep mengungkapkan, puskesmas dan ambulans di RSD Corona, khususnya di DKI Jakarta, pun sudah kewalahan. Dalam seminggu terakhir ini, ambulans yang dijalankan Satgas COVID-19 sangat sibuk sekali.

"Sejauh ini, sekarang memang puskesmas, terutama di daerah Jakarta, ini agak overwhelmed ya, karena jumlah penderitanya juga cukup banyak. Tenaga daripada medis maupun relawan yang ada di lapangan, dalam satu Minggu ini sangat sibuk sekali. Terlihat dari ambulans yang dijalankan oleh Satgas, itu hampir setiap hari itu sangat penuh sekali, sangat sibuk sekali," tutur Jossep.

Kesibukan ambulans itu membuat pasien COVID-19 yang ingin menggunakannya untuk antre. Jossep mengatakan sistem antrean itu dilakukan untuk mengatasi banyaknya pasien COVID-19 yang ingin menggunakan ambulans.

"Jadi istilahnya untuk mentransport mereka yang positif ke Wisma Atlet itu kita lakukan antrean, jadi tidak bisa dikontak terus langsung kita jemput," ujarnya.

Karena itu, Jossep meminta bantuan dari masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan. Sebab, jika pasien COVID-19 terus bertambah, Jossep mengatakan sistem kesehatan di Indonesia akan kewalahan.

"Sehingga memang ini kita butuh sekali bantuan dari masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan. Karena kalau kita terus seperti ini, semua sistem di kita ini akan ambruk, karena overwhelmed semua nih sistem kesehatan kita," kata Jossep.

"Meskipun kita masih tahan, tapi pertanyaannya sampai kapan ini kita masih tahan. Nah kalau sudah sistem kesehatan ini ambruk, ini yang jadi masalah. Jadi mohon bantuan dari masyarakat untuk sama-sama kita bekerja sama untuk mematuhi protokol kesehatan," sambung dia.

(mae/imk)