Seminggu DKI Jakarta PSBB Ketat, Pakar: Belum Ada Perubahan

Arief Ikhsanudin - detikNews
Senin, 21 Sep 2020 06:36 WIB
Mural bertema waspada penyebaran virus Corona hiasi jalan di Solo. Lukisan itu dibuat agar para pengguna jalan mematuhi protokol kesehatan guna cegah COVID-19
Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menerapkan pengetatan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak seminggu yang lalu. Epidemiolog menyebut belum ada perubahan kondisi pandemi Corona di Jakarta, dilihat dari perilaku masyarakat.

"Saya tidak melihat tingginya kasus, saya melihat belum ada perubahan perilaku masyarakat dalam melakukan protokol kesehatan," ucap Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Hariadi Wibisono, saat dihubungi, Minggu (20/9/2020).

Sehingga, Hariadi melihat PSBB selama seminggu ini belum bisa dilihat dampaknya terhadap kasus Corona. Karena, tidak ada perubahan dari kondisi Jakarta saat Gubernur Anies Baswedan memutuskan menarik rem darurat.

"Evaluasi pertama adalah, apakah PSBB ketat sudah dilaksanakan dan diterapkan. Kalau belum dilaksanakan, atau belum dipatuhi masyarakat, kita belum dapat menilai dampaknya," ucapnya.

Selama masih banyak masyarakat yang acuh terhadap protokol kesehatan, dan pemerintah yang tidak tegas mengawasi, maka kasus Corona di Jakarta masih akan tetap tinggi.

"Kalau belum dipatuhi, ya kita belum bisa berharap ada perubahan atau perbaikan," kata Hariadi.

Seperti diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencabut PSBB transisi dan memberlakukan PSBB ketat. Pemberlakukan PSBB ini berlangsung pada 14 September 2020.

"Maka dengan melihat kedaruratan ini maka tidak ada banyak pilihan bagi Jakarta kecuali menarik rem darurat sesegera mungkin," kata Anies dalam konferensi pers di Balai Kota Jakarta, Rabu (9/9/2020).

Anies memilih untuk menarik rem darurat dan mengembalikan pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Anies bersandar pada data-data yang menunjukkan kondisi virus Corona di Jakarta mengkhawatirkan.

"Dari 3 data ini, angka kematian, keterpakaian tempat tidur isolasi, keterpakaian ICU khusus COVID, menunjukkan bahwa situasi wabah di Jakarta ada dalam kondisi darurat," kata Anies.

Lihat juga video 'Volume Kendaraan Turun Selama PSBB Ketat di Jakarta':

(aik/isa)