Viral Wanita Ngaku Dilecehkan Saat Rapid Test di Soetta, Polisi Selidiki

Matius Alfons - detikNews
Sabtu, 19 Sep 2020 10:04 WIB
Poster
Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seorang wanita berinisial LHI viral di media sosial (medsos) lantaran mengaku mengalami pemerasan dan pelecehan seksual saat menjalani pemeriksaan rapid test di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Pihak kepolisian pun menyelidiki kejadian tersebut.

Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta Kompol Alexander Yurikho mengaku sudah mendapat informasi soal viralnya cerita dugaan kasus pemerasan dan pelecehan seksual tersebut. Dia menyebut pihak korban sejauh ini belum melaporkan kejadian tersebut.

"Iya, kami sudah monitor (terkait kejadian tersebut), tapi (korban) secara resmi belum melaporkan," kata Alexander saat dimintai konfirmasi, Sabtu (19/9/2020).

Alexander menyebut pihaknya saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait kejadian pemerasan dan pelecehan tersebut. Dia belum membeberkan secara resmi terkait kejadian itu.

"Penyelidikan awal sudah kita jalankan, penyelidikan akan tetap dilakukan," ucapnya.

Alexander pun berharap pihak korban yang merasa dirugikan segera melaporkan peristiwa tersebut guna memudahkan proses penyelidikan.

"Akan tetapi lebih memudahkan proses penegakan hukum jika yang merasa dirugikan menjadi korban membuat laporan secara resmi," imbuhnya.

Kejadian tersebut disampaikan LHI melalui akun Twitter @listongs. Melalui sebuah thread, dia membagikan cerita terkait dugaan pemerasan dan pelecehan seksual saat menjalani pemeriksaan rapid test di Bandara Soetta pada Minggu, 13 September 2020.

"Pada hari Minggu, 13 September 2020, aku mau pergi ke Nias Sumut dari Jakarta. Karena belum sempat melakukan rapid test di hari sebelumnya, jadi aku berencana untuk melakukan rapid test di bandara," tulis akun @listongs seperti dilihat detikcom.

Kemudian LHI menceritakan dirinya tiba di Bandara Soetta sekitar pukul 4 pagi untuk melakukan rapid test di tempat resmi di Terminal 3. Korban pun awalnya yakin hasil rapid akan nonreaktif lantaran dia yakin tidak pernah berada pada komunitas yang terpapar Corona. Namun, saat hasil rapid test keluar, dirinya dinyatakan reaktif Corona. Di sinilah korban mengaku mengalami pemerasan dengan dalih data rapid test bisa diganti untuk kepentingan penerbangan.

Singkat cerita, LHI mengaku tetap dipaksa lakukan rapid test ulang dengan membayar Rp 150 ribu. Dia pun akhirnya dibawa ke tempat sepi dan diminta memberikan uang tambahan senilai Rp 1,4 juta.

"Di situ dokternya bilang 'mba, saya kan sudah bantu mba nih, bisa lah mba kasih berapa, saya juga sudah telpon atas sana sini, bisa lah mba kasih', di situ aku kaget dong, yaudahlah karna gamau ribet juga aku tanyain langsung 'berapa?', si dokter jawab 'mba mampunya berapa? Misal saya sebut nominalnya takut nggak cocok' hhh si anj*ng, yaudahlah aku asal jawab 'sejuta?', eh si dokter miskin ini jawab 'tambahhin dikit lah mba' si t*i yaudah karna aku males ribet orangnya, aku tambahin jadi 1,4 juta," tulisnya.

Tak cukup sampai di situ, oknum yang diduga dokter itu ternyata disebut sempat mendekati hingga mencoba mencium korban. Oknum dokter tersebut juga sempat meraba payudara korban.

"Aku kira cuma selesai sampai di situ, ternyata enggak :( abis itu, si dokter ndeketin aku, buka masker aku, nyoba untuk cium mulut aku. Di situ aku bener2 shock, ga bisa ngapa2in, cuma bisa diem, mau ngelawan aja gabisa saking hancurnya diri aku di dalam, aku bener2 kaget dan gak bisa ngapa2in, si dokter bajing*n ini malah melanjutkan aksinya dengan meraba-raba payudara aku. Perasaanku hancur, bener2 hancur. nangis sekeras-kerasnya dari dalam, bahkan untuk teriak tolong aja gak bisa," lanjut dia.

detikcom sudah berupaya menghubungi pihak Angkara Pura 2, yakni Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Agus Haryadi, terkait ini, namun belum ada respons dari pihak terkait hingga berita ini dinaikkan.

Simak juga video 'Ada Wacana e-Visa dan Surat Bebas Corona, Seperti Apa Alurnya?':

[Gambas:Video 20detik]



(maa/hri)