Kolom Hikmah

Keteladanan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 06:02 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Seorang Umar, adalah putera Abdul Aziz. Ia adalah cucu Marwan dan anak laki-laki Ummi Asim, cucu Khalifah Umar bin Khattab). Dia dilahirkan dan dibesarkan di kota Madinah.

Al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah berkata, "Sesungguhnya di antara keturunanku ada seorang lelaki yang memiliki syajan (tanda atau luka) di wajahnya. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan."

Sebenarnya Gusti Allah telah memberikan petunjuknya untuk berlaku adil dalam kehidupan di bumi ini, apalagi sebagai seorang pemimpin. Allah SWT berfirman di dalam surat An-Nahl ayat 90, yang artinya:

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan pada kerabat, dan dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Dalam masa baktinya sebagai Amirul Mukminin yang sangat singkat antara bulan Safar 99 H sampai bulan Rajab 101 H, beliau telah menorehkan prestasi sebagai pemimpin yang adil. Adapun tanda-tanda Kemuliaan akhlaknya bisa kita simak dalam beberapa kejadian sebagai berikut:

Pertama, ketika diumumkan bahwa beliau yang menggantikan Sulaiman bin Abd Malik. Ketika itu Umar bin Abd Aziz bukan menyambutnya dengan suka cita sebagai Kepala Pemerintahan. Namun beliau justru menggigil karena membayangkan bahwa jabatan sebagai Amirul Mukminin yang sejati tidak terlepas dari kesulitan dan tanggung jawab. Seorang pemimpin seperti Umar ini yang selalu diingat adalah betapa berat tanggung jawabnya pada Gusti Allah.

Pada suatu ketika, Amirul Mukminin ditemukan di dekat Istrinya Fatimah sedang menangis. Ketika ditanyakan sebabnya ia sedih, Umar menjawab, "Fatimah! Saya telah dijadikan penguasa atas orang-orang Muslimin dan orang-orang asing, dan saya memikirkan nasib orang-orang miskin yang sedang kelaparan, orang-orang sakit yang papa, serta orang-orang yang telanjang dan sengsara, orang-orang tertindas, yang sedang mengalami percobaan berat, orang-orang tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua yang patut diberi hormat, dan ia yang mempunyai keluarga besar dengan penghasilan sedikit, dan orang dalam keadaan serupa di negara-negara di dunia dan provinsi-provinsi yang jauh, dan saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka di Hari Kebangkitan, saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimanapun tidak akan berguna bagi saya, lalu saya menangis."

Kedua, untuk melakukan perombakan atau transformasi pada pemerintahannya, dimulai dari diri Umar sendiri. Dia melepaskan semua kesenangan, kemewahan, selera akan makanan dan pakaian, dan praktis waktunya didedikasikan untuk pengabdian tiada henti sebagai pemimpin yang adil.

Umar tidak mau tinggal di Istana. Harta kerajaan berupa Unta, kuda, permadani, perkakas terbuat dari perak dan emas, semua dilelang dan hasilnya disimpan pada bendahara negara. Mengenai Isterinya Fatimah, ia minta agar semua perhiasan dan permata yang diterima dari sanak keluarganya agar diserahkan pada perbendaharaan negara. Fatimah diminta memilih hidup sederhana dengan dirinya atau berpisah. Sebagai isteri yang solehah, Fatimah memilih hidup sederhana bersama Umar.

Sebagai seorang Kepala Pemerintahan yang baru, sedih dan menangis, karena yang dipikirkan adalah bagaimana bisa mengentaskan orang-orang yang tidak berdaya (miskin, dan kurang mampu) serta nantinya akan dipertanggungjawabkan pada Tuhannya. Adapun dalam mengelola pemerintahan, beliau melakukan perombakan atau transformasi dan dimulai dari dirinya.

Inilah contoh seorang pemimpin yang hidupnya untuk melayani rakyatnya. Pengorbanannya untuk memulai kerja sebagai Amirul Mukminin sangat besar, seorang pendamping setianya diminta memilih hidup sederhana dengan dirinya atau berpisah. Memilih hidup sederhana menjadikan dirinya akan tahan terhadap godaan untuk berbuat zalim dan menindas rakyatnya.

Adapun kondisi saat ini yang terjadi, jika seseorang telah memenangkan dalam kontestasi Pilkada, yang dilakukan pertama kali adalah berpesta dengan para pendukungnya meski acara dibalut dengan nama syukuran. Semoga mereka (para pemimpin) ini selalu ingat pada rakyat yang tidak berdaya, yang tertindas karena kekuasaan, bangkitkan mereka, angkat harkat dirinya, bukan tunduk pada orang-orang yang memberikan modal saat pemilihan.

Penulis berharap munculnya banyak Pemimpin yang selalu adil dan melindungi rakyatnya, apalagi dalam bulan Desember tahun ini akan terpilih ratusan pemimpin daerah baru.


Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016.


*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)