Menteri ESDM: 70 Gunung Api Sangat Aktif, Perlu Perhatian Serius

Nurcholis Maarif - detikNews
Rabu, 16 Sep 2020 20:20 WIB
Jakarta Energy Forum 2020 resmi dibuka oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif. Acara ini bertema  The Future of Energy.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengaku bangga dengan capaian 100 tahun pemantauan gunung api di Indonesia. Sebab kerja keras itu membuatnya mendapat penghargaan dari dunia.

Ia menjelaskan posisi Indonesia yang berada di antara pertemuan tiga lempeng besar dunia menjadikannya daerah yang rawan terhadap bencana. Namun menurut dia, sudah seharusnya hal itu menjadikan Indonesia lebih tangguh, lebih sigap, dan lebih siap lagi dalam menghadapi bencana geologi, seperti erupsi gunung api, gempa bumi, tsunami, dan gerakan tanah.

"Fakta tersebarnya sekitar 70 gunung api sangat aktif di seluruh wilayah Indonesia, dari jumlah total 127, memerlukan perhatian serius karena beberapa di antaranya telah mengalami erupsi yang berakibat korban jiwa manusia," ujar Arifin dalam keterangan tertulis, Rabu (16/9/2020).

"Namun demikian, ibarat sisi mata uang, di samping ancaman bencana geologi, sisi positifnya menjadikan Indonesia memiliki tanah yang subur. 128 cekungan sedimen, 329 tempat manifestasi panas bumi, 421 cekungan air tanah, dan memiliki jalur metallogenik, sehingga Indonesia banyak memiliki sumber daya mineral dan energi yang tentunya harus dikelola secara bijak dan berkeadilan," sambung Arifin.

Ia mengatakan sepanjang 100 tahun pengamatan gunung api di Indonesia merupakan perjalanan panjang yang telah memperkaya bangsa Indonesia dengan banyak pengalaman yang bisa diambil pelajaran, direnungkan atau bahkan kita rayakan bersama.

"Menjelang 100 tahun ini kita bangga dengan melihat capaian-capaian selama ini dan apa yang masih perlu diperbaiki dan menjadikannya sebagai tantangan yang dihadapi dalam pemantauan gunung api di masa mendatang," ungkap Arifin.

Kata Arifin, kerja keras dalam pemantauan gunung api Indonesia di Indonesia telah mendapatkan pengakuan tingkat dunia. Sebab Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian ESDM menjadi institusi pertama di dunia yang menerima penghargaan dari asosiasi ahli gunung api dunia atau International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth's Interior (IAVCEI) Award pada tahun 2018.

"Pemberian penghargaan ini didasarkan pada aspek pemantauan gunung api dan bagaimana institusi tersebut mengorganisasi krisis gunung api, baik itu ketika pra, saat, maupun setelah erupsi," ujarnya.

Sebagai informasi, hal itu diucapkan Arifin dalam puncak 'Peringatan 100 Tahun Pemantauan Gunung Api di Indonesia'. Tema peringatan tahun ini ialah 100 Years Anniversary of Saving Lives; Lessons Learned, Reflection, and Celebration.

Sementara itu, Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono menambahkan pada tahun 2020 ini, kegiatan pemantauan gunung api di Indonesia memasuki usia 100 tahun, suatu jangka waktu yang cukup lama untuk pengembangan suatu sistem pemantauan gunung api.

"Dalam perjalanan waktu, sejak awal pembentukan Dinas Penjagaan Gunung api hingga saat ini," ujarnya.

"Saat ini, institusi pemantauan gunung api terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem pemantauan serta daya dukung sarana prasarananya yang mengacu pada standar pemantauan gunung api dunia," imbuhnya.

Dijelaskan Eko, seiring dengan perkembangan teknologi pemantauan yang semakin maju saat ini, kegiatan pemantauan gunung api dapat dilaksanakan dalam jarak yang cukup aman dari sumber aktivitas gunung api, nyaman, serta resposif dalam mendukung tugas mitigasi bencana gunung api.

"Tonggak sejarah pemantauan gunung api di Indonesia baru dimulai secara kelembagaan pasca letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada tahun 1919," tutur Eko.

"Pada saat terjadi erupsi Gunung Kelud, dampak tidak langsung hasil erupsi berupa lontaran air danau Kawah Kelud dari banjir lahar panas yang mengakibatkan korban jiwa sebanyak 5.156 orang," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan upaya mitigasi berupa pembangunan infrastruktur terowongan pembuangan danau air Kawah Kelud maupun pendirian kelembagaan yang menangani mitigasi bencana erupsi dilakukan satu tahun setelah erupsi tersebut.

Pendirian kelembagaan tersebut adalah dengan dibentuknya Dinas Penjagaan Gunung Api pada 16 September 1920. Lembaga ini sekaligus menjadi institusi pertama yang melakukan pemantauan gunung api di Indonesia.

"Dalam perjalanan waktunya, yaitu periode tahun 1920-1941, sudah 8 gunung api dipantau tingkat aktivitasnya. Hingga saat ini Badan Geologi telah membangun 74 Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) di 69 gunung api aktif yang ada di Indonesia," pungkas Eko.

(prf/ega)